Lagi, tentang harapan, impian, dan masa depan…

Lagi, tentang harapan, impian, dan masa depan…

Bingung mau mulai nulis darimana. Rasanya sudah terlalu lama, blog ini ditinggal begitu saja. Ketika mau ngisi lagi, jadi dihantui perasaan bersalah. Tapi ya sudahlah, dimulai lagi aktifitas mengisi blognya. Dan “menjemput” kembali kisah setahun ke belakang, mulai “edisi” ini, In mau cerita tentang aktivitas Iin belakangan ini. Bukan hal-hal yang penting juga. Tapi mudah-mudahan bisa memberikan “something” buat pembaca yang singgah ke sini.

Part 1

Nah, ceritanya beberapa waktu yang lalu, In dapat selebaran dari dinas kesehatan Kota Bitung, yang isinya ada beasiswa dari Kementerian Kesehatan untuk Bidan yang udah PNS. Beasiswanya amat sangat menggiurkan, yaitu menjadi mahasiswa Universitas Indonesia. Hmmm, UI? Bermimpi aja rasanya takut-takut kalo udah membawa nama UI. UI gitu lho… siapa yang nggak mau jadi mahasiswa UI? Universitas terkemuka se-Indonesia.

Singkat cerita In benar-benar berniat banget mau mengikuti program ini. Tapi, ternyata tidak semudah yang dibayangkan. Perjuangannya lumayan panjang dan berlimpah air mata. Kalau nggak punya niat kuat rasanya, impian untuk sampai ke UI hanya akan tinggal impian semata.

Tantangan pertama adalah mengurus surat izin untuk mengikuti tes. Alhamdullillah dari pihak Puskesmas mendukung (thanks banget buat Kepala Puskesmasku dr. Elizabeth Sompotan ) juga buat Kepala Dinkes ( Dr. Ellen Wuisan) semua urusan surat menyurat lancar dan nggak ada masalah. Nah, yang jadi persoalan adalah birokrasi. OMG, gini lho –kalau bisa dipermudah mengapa harus dipersulit?- Kenapa kesannya justru terbalik ya, -kalau bisa dipersulit kenapa harus dipermudah?-

Sebenarnya In tidak mau cerita soal ini, tapi demi kesopanan malah pingin banget curhat di media massa mana gitu. Tapi nggak lah, cukup “Ya Tuhan, maafkanlah mereka. Jangan ada korban berikutnya.”

Bayangkan saudara-saudara, untuk dapetin satu tanda tangan, In harus duduk nunggu di depan ruangan kantor tersebut ( demi keamanan, identitas kantornya dirahasiakan, hehe….) selama tiga hari. Dan pada hari ketiga justru di sambut dengan dampratan super manis di tengah umat manusia lainnya yang juga lagi ngantri menunggu kehadiran beliau. Kira-kira begini bunyinya:

“ Ngapain kalian (In nggak sendirian, bersama beberapa rekan senasib juga) nungguin saya beberapa hari ini di depan sini? Hahh? Saya tidak masuk kerja karena ada alasan. Ngapain kalian bolak-balik nyari saya terus?”

Lha, gimana sih, nggak datang ya nggak datang aja Mom, jangan malah balik galak kali!

Beginilah Indonesiaku.

Tapi karena akhirnya surat izin itu selesai sudah, Alhamdullillah… Peristiwa “menunggu” itu termaafkan. Hanya sempat terpikir oleh In. Kami sama-sama PNS, okelah pangkat dan jabatan”nya” jauh lebih tinggi. Tapi selama ini, selama menjadi PNS, sehari-hari In (dan teman-teman) bekerja melayani masyarakat, dengan segenap hati, dengan segenap kemampuan, kenapa ya, tidak terpikir oleh”nya” untuk melayani kami dengan segenap hati? Apakah kami terlihat seperti pengemis yang merusak pandangannya hanya karena duduk di depan ruangannya? Semoga Tuhan membuka mata hatinya untuk melihat manusia lain dan memperlakukan manusia lain dengan lebih manusiawi.

Pada saat-saat terakhir batas waktu penyerahan surat itu, kami bisa menyelesaikan semua persyaratannya yang bermacam-macam.

Cling, diserahkan semua berkas ke dinas kesehatan propinsi untuk dilanjutkan ke dinkes pusat untuk di seleksi.

Oya, btw, nantinya di UI kami akan diterima di Fakultas Kesehatan Masyarakat, dengan penjurusan Kebidanan Komunitas. Haiya, barang apa lagi tuh Kebidanan Komunitas, kok nggak pernah denger ya? Nantinya belajar apaan di sana ya? Ih, jangan-jangan nggak nyambung lagi sama profesi Bidan.

FKM, FKM apaan? Mau jadi apa? Apa bener kuliah di FKM akan memberikan sesuatu? Sesuatu yang sesuai dengan harga yang akan In “bayar” jika lulus dan kuliah di sana? In harus ninggalin keluarga lho. Harus ninggalin anak-anak yang sedang berada pada masa tumbuh, masa dimana In harus ada, In wajib ada!

Pantaskah meninggalkan mereka demi FKM? Demi gelar SKM? Please In, FKM itu ada dimana-mana, bukan hanya di UI! Tegakah In mengorbankan 2 tahun kehilangan hari-hari emas anak-anak In?

Keraguan itu tidak membuat In berhenti belajar. Ya, In emang belajar banget selama tenggat waktu antara seleksi berkas dan tes. Membahas semua soal-soal TPA, membeli buku Toffel yang beneran, In nggak ngerti. Mendownload soal-soal dari internet.

Setiap dinas di Puskesmas, kalau lagi nggak ada pasien, In habiskan buat belajar. Kalau di rumah, setelah anak-anak tidur sekitar jam sebelas dua belas malam, In gunakan buat belajar sampai kira-kira jam dua dini hari. Ya, terasa ada sesuatu yang menggelitik hati. Sesuatu itu bernama harapan. Harapan untuk meraih impian. Cita-cita yang telah lama tak pernah lagi berwujud. Muncul lagi dan membawa Iin bermimpi jauh… Bermimpi bisa sampai di UI.

Bersambung…

»

  1. hhhmmmm……menarik juga kisahnya. Kadang kita memang dihadapkan pada sesuatu yang sebetulnya kita ingin berteriak ‘Kenapa’ namun pertanyaan itu tersekat dalam rongga dada, tersumbat oleh kebutuhan yang semakin menghimpit. Namun memperjuangkan impian seperti senyawa baru yang membuat hidup kita lebih hidup da membara, meski onak dan duri seperti ingin kita tendang dan lemparkan dari hadapan kita. salam kenal.

  2. Alhamdulillah, sumber inspirasiku sudah kembali. Selamat In, revolusi diri yang yang luar biasa. Semoga membawa berkah ke blog ini dengan suka dukanya dalam cerita……

  3. Lama tak jumpa nih kita. Main ke sini sepi sieh hehe… :)

    Selamat datang kembali di dunia blogger Mba In. Aku lama merindukan kehadiranmu di blog ini :)

    Kisahnya seru!!! Penuh perjuangan. Kalo pengalaman itu “niban” saya, wah udah ampun-ampunan tuh marahnya :D

  4. alhamdulillah…
    waktu aku ngurus surat dan berkas TuBel BidKom ga sesulit dan ga pake diomelin.BTW,tetep semangat ya mba…

  5. heee.asik kali ceritamu, harusnya semua pejabat2 negeri ini baca blogmu ni…..rata2 begitulah paradigma para pemimpin negeri ini mulai dari istana sampai rumah pak RT……indonesiaku….tulisanmu bagus2….saluuuuuttttt…..ga nyeselpunya temen kamuu…..heeeeeeee

  6. belajar jika dipertimbangkan tega tidak tega lebih banyaknya malah tak jadi belajar, ayo maju terus
    maaf nih saya lama tak berkunjung dan kini juga sudah pindah ke kampungmanis

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s