Lagi, tentang harapan, impian, dan masa depan…

Lagi, tentang harapan, impian, dan masa depan…

Bingung mau mulai nulis darimana. Rasanya sudah terlalu lama, blog ini ditinggal begitu saja. Ketika mau ngisi lagi, jadi dihantui perasaan bersalah. Tapi ya sudahlah, dimulai lagi aktifitas mengisi blognya. Dan “menjemput” kembali kisah setahun ke belakang, mulai “edisi” ini, In mau cerita tentang aktivitas Iin belakangan ini. Bukan hal-hal yang penting juga. Tapi mudah-mudahan bisa memberikan “something” buat pembaca yang singgah ke sini.

Part 1

Nah, ceritanya beberapa waktu yang lalu, In dapat selebaran dari dinas kesehatan Kota Bitung, yang isinya ada beasiswa dari Kementerian Kesehatan untuk Bidan yang udah PNS. Beasiswanya amat sangat menggiurkan, yaitu menjadi mahasiswa Universitas Indonesia. Hmmm, UI? Bermimpi aja rasanya takut-takut kalo udah membawa nama UI. UI gitu lho… siapa yang nggak mau jadi mahasiswa UI? Universitas terkemuka se-Indonesia.

Singkat cerita In benar-benar berniat banget mau mengikuti program ini. Tapi, ternyata tidak semudah yang dibayangkan. Perjuangannya lumayan panjang dan berlimpah air mata. Kalau nggak punya niat kuat rasanya, impian untuk sampai ke UI hanya akan tinggal impian semata.

Tantangan pertama adalah mengurus surat izin untuk mengikuti tes. Alhamdullillah dari pihak Puskesmas mendukung (thanks banget buat Kepala Puskesmasku dr. Elizabeth Sompotan ) juga buat Kepala Dinkes ( Dr. Ellen Wuisan) semua urusan surat menyurat lancar dan nggak ada masalah. Nah, yang jadi persoalan adalah birokrasi. OMG, gini lho –kalau bisa dipermudah mengapa harus dipersulit?- Kenapa kesannya justru terbalik ya, -kalau bisa dipersulit kenapa harus dipermudah?-

Sebenarnya In tidak mau cerita soal ini, tapi demi kesopanan malah pingin banget curhat di media massa mana gitu. Tapi nggak lah, cukup “Ya Tuhan, maafkanlah mereka. Jangan ada korban berikutnya.”

Bayangkan saudara-saudara, untuk dapetin satu tanda tangan, In harus duduk nunggu di depan ruangan kantor tersebut ( demi keamanan, identitas kantornya dirahasiakan, hehe….) selama tiga hari. Dan pada hari ketiga justru di sambut dengan dampratan super manis di tengah umat manusia lainnya yang juga lagi ngantri menunggu kehadiran beliau. Kira-kira begini bunyinya:

“ Ngapain kalian (In nggak sendirian, bersama beberapa rekan senasib juga) nungguin saya beberapa hari ini di depan sini? Hahh? Saya tidak masuk kerja karena ada alasan. Ngapain kalian bolak-balik nyari saya terus?”

Lha, gimana sih, nggak datang ya nggak datang aja Mom, jangan malah balik galak kali!

Beginilah Indonesiaku.

Tapi karena akhirnya surat izin itu selesai sudah, Alhamdullillah… Peristiwa “menunggu” itu termaafkan. Hanya sempat terpikir oleh In. Kami sama-sama PNS, okelah pangkat dan jabatan”nya” jauh lebih tinggi. Tapi selama ini, selama menjadi PNS, sehari-hari In (dan teman-teman) bekerja melayani masyarakat, dengan segenap hati, dengan segenap kemampuan, kenapa ya, tidak terpikir oleh”nya” untuk melayani kami dengan segenap hati? Apakah kami terlihat seperti pengemis yang merusak pandangannya hanya karena duduk di depan ruangannya? Semoga Tuhan membuka mata hatinya untuk melihat manusia lain dan memperlakukan manusia lain dengan lebih manusiawi.

Pada saat-saat terakhir batas waktu penyerahan surat itu, kami bisa menyelesaikan semua persyaratannya yang bermacam-macam.

Cling, diserahkan semua berkas ke dinas kesehatan propinsi untuk dilanjutkan ke dinkes pusat untuk di seleksi.

Oya, btw, nantinya di UI kami akan diterima di Fakultas Kesehatan Masyarakat, dengan penjurusan Kebidanan Komunitas. Haiya, barang apa lagi tuh Kebidanan Komunitas, kok nggak pernah denger ya? Nantinya belajar apaan di sana ya? Ih, jangan-jangan nggak nyambung lagi sama profesi Bidan.

FKM, FKM apaan? Mau jadi apa? Apa bener kuliah di FKM akan memberikan sesuatu? Sesuatu yang sesuai dengan harga yang akan In “bayar” jika lulus dan kuliah di sana? In harus ninggalin keluarga lho. Harus ninggalin anak-anak yang sedang berada pada masa tumbuh, masa dimana In harus ada, In wajib ada!

Pantaskah meninggalkan mereka demi FKM? Demi gelar SKM? Please In, FKM itu ada dimana-mana, bukan hanya di UI! Tegakah In mengorbankan 2 tahun kehilangan hari-hari emas anak-anak In?

Keraguan itu tidak membuat In berhenti belajar. Ya, In emang belajar banget selama tenggat waktu antara seleksi berkas dan tes. Membahas semua soal-soal TPA, membeli buku Toffel yang beneran, In nggak ngerti. Mendownload soal-soal dari internet.

Setiap dinas di Puskesmas, kalau lagi nggak ada pasien, In habiskan buat belajar. Kalau di rumah, setelah anak-anak tidur sekitar jam sebelas dua belas malam, In gunakan buat belajar sampai kira-kira jam dua dini hari. Ya, terasa ada sesuatu yang menggelitik hati. Sesuatu itu bernama harapan. Harapan untuk meraih impian. Cita-cita yang telah lama tak pernah lagi berwujud. Muncul lagi dan membawa Iin bermimpi jauh… Bermimpi bisa sampai di UI.

Bersambung…

WHO ungkap studi perokok pasif

WHO ungkap studi perokok pasif

California (SINDO) – Studi global pertama tentang dampak perokok pasif mengungkapkan hasil mengejutkan. Sedikitnya 600.000 orang perokok pasif meninggal dunia setiap tahun.

Perokok pasif adalah orang yang tidak merokok tapi ikut menghirup asap rokok yang dikeluarkan oleh perokok pasif. Lebih mengerikan lagi, korban perokok pasif adalah anak-anak.

“Sepertiga orang yang meninggal tersebut adalah anak-anaak yang sering menghirup asapa rokok di rumah mereka,” papar Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) kemarin.

Studi yang dilakukan di 192 negara itu juga menemukan bahwa perokok pasif sangat membahayakan anak-anak. “Mereka merupakan resiko tertinggi terkena sindrom kematian bayi scara tiba-tiba, pneumonia, dan asam,” papar hasil studi WHO.

Merokok pasif mengakibatkan penyakit jantung, pernapasan, dan paru-paru. “Ini membantu kami memahami total kematian nyata yang diakibatkan oleh tembakau,” ujar Armando Peruga dari Inisiatif Bebas Tembakau WHO (TFI) yang memimpin studi tersebut.

Hasil studi ini digunakan untuk memperkirakan munculnya sejumlah penyakit tertentu dan jumlah orang yang terpapar asap rokok di tempat-tempat tertentu.

WHO menyatakan sangat mengkhawatirkan sekitar 165.000 anak yang meningggal akibat infeksi pernafasan terkait asapa rokok, terutama di Asia Tenggara dan Afrika.

Lembaga ini menyatakan lebih memperhatikan nasib perokok pasif anak-anak daripada klompok usia lain, khususnya yang mengalaminya di rumah-rumah mereka sendiri. “Gabungan penyakit infeksi dan asap rokok dari orang lain ini merupakan kominasi yang mematikan,” ujar Peruga.

Selain meningkatkan resiko penyakit pernafasan, paru-paru anak-anak yang menghirup asap rokok secara pasif ini perkembangannya mungkin berlangsung lebih lambat daripada anak-anak yang tumbuh di rumah-rumah bebas asap rokok.

Menurut WHO, di penjuru dunia sebanyak 40% anak-anak, 33% pria, 35% wanita yang tidak merokok, menghirup asap rokok secara pasif pada 2004.

Merokok pasif, menurut studi WHO, mengakibatkan 379.000 kematian akibat penyakit jantung, 165.000 infeksi pernafasan bawah, 36.900 asma, dan 21.400 kanker paru-paru.

Berdasar hasil studi, jumlah tertinggi perokok pasif berada di Eropa dan Asia. Tingkat terendah perokok pasif ada di Amerika, Mideterania Timur, dan Afrika.

Riset juga mngungkapkan bahwa perokok pasif memiliki dampak lebih buruk terhadap perempuan. Mereka telah mengakibatkan 281.000 wanita di penjuru dunia meninggal dunia. Ini terkait fakta bahwa di banyak belahan dunia, studi ini menemukan, sedikitnya 50% perempuan lebih sering menjadi perokok pasif daripada pria.

Peneliti WHO mengakui keterbatasan studi ini, termasuk ketidakpastian tentang data kesehatan dan kesenjangan yang ada dalam data terkait kondisi para perokok pasif.

Menurut Dr. Heather Wipfli dari University of Souther California, ada sejumlah ketidakpastian dalam memperkirakan perkembangan penyakit. “Kendati demikian, tidak ada pertanyaan lagi bahwa 1,2 miliar perokok di dunia menciptakan miliaran perokok pasif, sekaligus penyakit akibat polusi udara di ruangan tertutup,” katanya. (AFP/Rtr/BBC/syarifudin)

Sumber: Seputar Indonesia, 27 November 2010

yang kau lewatkan

yang kau lewatkan

Puisi Iin Syah

Kau: Menatapku dan berkata
ini waktu yang tak sama
antara kita, tak ada apa-apa lagi
selain,
“aku ingin bertemu
berperan seakan kita hanya sahabat
lama, yang ingin sekedar bersua
sebentar saja
bertukar sapa
kemudian semua akan
seperti tak pernah terjadi apa-apa”

Kau: Hadir dengan didahului sebuah tanya
bolehkah aku bertamu di hidupmu
di hatimu
di kenanganmu yang kau lipat rapat
dalam belahan alam bawah sadarmu yang jauh
“percayalah tak ada yang istimewa
hanya perbincangan manis tentang
soal-soal tipis, cerita dan kisah basa-basi.”

Kau: Ringan berucap tentang
semak rasa yang kau semai
di tanah basah lapisan terbawah
yang telah tertimbun daun-daun jatuh
ilalang-ilalang penuh
masih ada tempat di hatiku atas namamu
“bagaimana aku bisa bunuh itu
sementara pada musimku berkelana
mencumbumu di balik rerimbunan angan itu.”

Kau: Bertandang membawa perih
yang tak kunjung mati di hati ini
bersalam hangat kemudian sebelum pergi berucap lirih
seakan sedih
“terima kasih atas hari ini
bersuamu membuatku menyadari
ada yang salah dengan perjumpaan ini
aku tak akan menemuimu lagi.”

Aku: Tersenyum mengemas semua kenangan dan ucapmu hari ini
dalam selembar kertas merah hati
melipatnya rapat
dan menambah sedikit lagi tulisan di situ
“Selalu, semua hanya tentang dirimu, perasaanmu, hidupmu…
Pernahkah sekali saja kau berpikir tentang hatiku?”
Kertas merah hati kurekat indah
Dan berakhir di tempat pembuangan sampah
seperti yang kau minta
__________________________________________
Depok, 26 Oktober 2010
(Semoga ada pemulung yang mengambilnya,
Mungkin akan lebih bermanfaat.)


MY FIRST BABY

MY FIRST BABY

Inraini Fitria Syah

 

Ya, bisa dibilang beruntung sebenarnya nasibku ini. Selama kuliah, bahkan di saat-saat wisudapun aku belum terbayang bagaimana caranya menjalani profesi yang kusandang sebagai akibat aku berkuliah di Akademi Kebidanan. Bidan. Bidan. Hmmm… yang terbayang adalah wajah-wajah anggun bersepatu hak tinggi, polesan lipstick, dan kebaya. Haha… ya begitulah kira-kira contoh yang kuamati selama ini dari dosen-dosen, tante-tanteku yang bidan juga, serta beberapa senior. Belum lagi ditambah dengan pelajaran tentang etika di kampus. Bidan itu harus anggun, wibawa, kalau berjalan dagunya diangkat sedikit. Haha, tidak tahu juga, dosennya mengajarkan pakai buku panduan apa, tapi begitulah diantaranya.

Lha, sedangkan aku? Jangankan sepatu hak tinggi, kebaya, memakai lipstickpun aku tak pernah. Entah kenapa. Aneh saja rasanya berlipstick lalu bercermin. Seperti melihat bayangan hantu kesasar. Hehehe, ini tidak ada hubungannya dengan para penggemar berdandan. Memang akunya saja yang kampungan. Anggun? Wibawa? Kayaknya tidak juga. Aku orangnya grasah-grusuh. Suka cengengesan tak jelas juga. Kalau terpaksa pakai hak tinggi dan jalan, bunyinya kletak kletak kletak gubrak! Hahaha… Mana pantas jadi bidan seperti yang digambarkan para pendahuluku itu.

Tapi ya, apapun aku, tokh aku sudah menyandang predikat bidan. Setidaknya dengan ijazah yang sudah aku kantongi.

Dan berbekal ijazah tersebut didukung sedikit keberuntunganku. Oya, aku selalu percaya aku memiliki sisi keberuntungan. Ini tak lepas dari nilai-nilaiku yang selalu abnormal (maksudku kebagusan) di sepanjang sejarah perjalanan pendidikanku. Atau aku memang pintar kali’ ya? Hehehe… Ya, dengan berbekal itulah aku sukses lulus sebagai CPNS di akhir 2002. Ini beneran keberuntungan. Karena waktu itu Bidan yang mau diterima 28 orang sedangkan yang mendaftar hanya 37 orang. Dan nomor pendaftaranku 36. Sama sekali tidak menyangka akan langsung jadi CPNS. Padahal aku belum sempat mengecap yang namanya petualangan mencari kerja seusai kuliah. Hehehe, sombong amat. Thanks God for everything.

Sesuai impianku, ingin hidup tenang aman damai sejahtera di kaki gunung, penempatanku benar-benar di Gunung. Bukan di kakinya lagi, tapi di gunung beneran. Di pinggangnyalah kalau terlalu ekstrim terdengar di Gunung. Tempat yang benar-benar nyaman dan sangat dingin. Hampir setiap waktunya dibungkus kabut. Tapi aku suka. Cuma dengan sedikit resiko terhadap profesiku. Alam yang terjal, tempat tinggal penduduk yang saling berjauhan, tempat rujukan yang jauh menjadi beberapa diantara masalah yang ada. Dan aku? Aku sama sekali tidak punya pengalaman apa-apa menghadapi semua ini. NOL. Bekal dari kampus rasanya beda banget dengan situasi yang aku temui. Atau mungkin karena aku kebanyakan cabut waktu kuliah kali’ ya. Jadi kok merasa gak ada sama-samanya pelajaran di kampus dengan yang ini? Hehe… Tapi ya sudah. Aku berusaha siap lahir batin menjalani semuanya. Read the rest of this entry

DI PANTAI INI….

DI PANTAI INI….

Aku mengaku. Aku mengakui dengan sangat nyata. Ternyata. Betapa berartinya diriku ini. Terlambat sebenarnya. Tapi tak apa-apa. Setidaknya aku tak lagi menyesali kenapa aku menginjakkan kakiku di Bumi ini. Bukan bercanda, ada masa dimana aku lebih ingin tinggal sendiri di Mars sana. Atau setidaknya di tengah rimba karena Mars kejauhan. Lagipula aku takut naik pesawat terbang. Ya, banyak saat dimana aku merasa tak ada seorangpun yang menginginkan kehadiranku di sini. Tapi ternyata aku salah.

Tak ada yang membenciku. Tak ada yang mengkhianatiku. Tak satupun.Kalaupun dulu aku menganggap itu ada, dia Raga. Raga. Ya, Raga makhluk pertama yang membuatku dengan indahnya melukisi kuburanku sendiri. Lengkap dengan taman dan Pohon Kamboja. Kutunjukkan gambar itu pada Satria sembari berkata, nanti kalau aku mati… denah kuburanku seperti ini. Satria sakit perut tertawa. Tapi lalu kemudian ikut-ikutan bego dengan menambah aksesoris dalam lukisan pemakamanku. Ya Haa….

Akh, padahal kalau Satria tahu. Aku menunjukkan lukisan itu dengan harapan Satria ember dan menceritakannya pada Raga. Biar Raga tahu, betapa terlukanya aku. Tapi Satria bukan ember, daripada menceritakan sesuatu yang tak penting seperti itu, lebih baik dia terbenam dalam rumus kimia dan fisikanya. Dan kisah kuburanku yang mati mudapun berlalu begitu saja.

Tapi kini aku menyadari, Raga sama sekali tak ada niat mengkhianatiku. Proses pengkhianatan itu tak sama antara lamunanku dengan kenyataan di lapangan. Kecuali aku yang terlalu mengada-ada, Ragapun sama mengada-adanya. Kloplah, kami terkurung dalam acara saling benci tanpa alasan yang jelas kecuali nuansa panas yang abnormal. Seratus point buat ketololanku. Melepaskan kesempatan pertama dan terakhirku untuk seseorang bernama Raga

Malam berganti siang, berganti dingin, malam, hujan, gunung, lautan, sirkus, tempat sampah, tempat tidur, ruang kosong, kenangan. Tapi Raga tetap menempati urutan pertama untuk urusan inspirasiku yang tak sudah. Dia pokok di pojok khayalan yang bertebaran tak tentu waktu. Dia tokoh utama di setiap cerita perang , silat, romantis, drama, misteri, dongeng yang kulakoni. Menyebalkan, karena harusnya Raga telah mati beberapa belas tahun yang silam. Aku telah menaburkan bunga di makamnya yang belum ada. Hhhhh, pantasan. Belakangan aku baru tahu dia sendiri terjebak khayal mati di usia 40 tahun. Aneh, kami terjebak di kematian. Walau dengan latar yang tak sama. Tapi tetap saja aneh.

Lalu Renjana. Makhluk berkaki dua yang tak ada beda dengan rupa manusia. Haha, karena dia memang manusia. Siapa pula yang mau jatuh cinta dengan yang selain manusia. Menyeramkan. Tapi kisahku dengan Renjana memang agak sedikit menyeramkan. Lama… Panjang… Melelahkan. Menghabiskan banyak waktu, perasaan, perjalanan. Lalu sepanjang semua itu aku tak pernah bisa merasakan Renjana punya perasaan yang sama denganku. Atau malah aku yang tak punya perasaan pada Renjana? Entahlah. Kembali terjadi, berputar-putar di visi dan misi yang berbeda. Tak tepat waktu, tak tepat orang, tak tepat perasaan. Samarnya, aku kembali merasa sendirian. Kesepian. Kehilangan. Ingin ke Mars, ke hutan, sembunyi di kolong jembatan. Setidaknya nangkring di pohon Rambutan. Sendirian.

Tapi percuma. Daya rasaku memang terlalu susah untuk berkelit dari kenyataan kalau aku tak diinginkan. Aku layak untuk dibuang. Dipinggirkan. Disingkirkan. Apalagi dengan kenyataan selain bilang kasihan melihat dua ekor burung gereja yang sedang bermain bersama lalu ditinggalkan pasangannya, Renjana tak berbuat apa-apa untuk menahanku pergi. Jadinya, aku memang bukan siapa-siapa.

Raga, Renjana, Keris, Sabda, Parau, Kilau,… Semua begitu. Meninggalkan jejak yang kian menggiringku pada rasa keterasingan. Tak salah jika kugila dengan Chairil Anwar. Akulah yang terbuang dari kumpulannya.

Dan ya, semua berlalu meninggalkan hatiku yang penasaran. Kerinduan. Kehancuran. Ada sesuatu yang tak tuntas. Ada banyak tanda tanya tak selesai. Titik-titik tak terisi. Sepi. Lalu kiranya hidup memberiku limit untuk berlari, mencoba mencari temu dari semua yang mengganggu. Rindu tak terurus. Rasa yang terperangkap dan menggeliat ingin terlepas. Apalah…. Hingga, aku sampai pada kesimpulan untuk memaafkan diri sendiri. Berdamai dengan keluh kesah hati. Menghargai keberadaanku di Bumi ini. Penting ternyata. Merasa betapa berartinya diri sendiri. Yaa…

Akh, peduli amat dengan semua itu. Aku berlari… berlari dan berlari… Menyenangkan bisa lepas dari semuanya. Dari semua omong kosong yang mengurungku sejak pagi tadi. Di depan sana mereka sudah menungguku sedari tadi. Tanpa sungkan aku melempar sepatu, kaus kaki. Melepas baju . Menanggalkan celanaku. Membiarkan kulit telanjangku terbakar Matahari. Mencebur bersama deburan yang menyenangkan. Ugh, lega… Membaringkan tubuhku di empuk dan asinnya air laut. Sorak sorai teman-temanku terdengar mengiringi bergabungnya aku bersama mereka di sore yang jingga ini.

Untunglah aku baru berumur sembilan tahun saat ini. Aku tak perlu pusing memikirkan apa yang tadi jadi bahan obrolan mbak Lila, Tante Mita, Bunda, Kak Sinta, dan semuanya. Huhh… arisan keluarga malah jadi arena curhatan masa lalu. Membosankan sekali. Apalagi anak kecil sepertiku dianggap tak punya telinga. Padahal semua obrolan mereka terekam jelas di otakku. Dari tadi aku sudah kebelet mau kencingun tak ditangapi. Sudah, pipis sana sendiri, sudah besar juga. Begitu kata Mbak Lila dan Bunda kompak. Akupun tak menyia-nyiakan pernyataan tersebut dan langsung lari ke pantai yang tak jauh di belakang rumah. Biasanya hari Minggu begini teman-temanku sudah kumpul di sini. Benar. Mereka menyambutku sambil teriak-teriak,

“ Hasan…Ayo…terjun…”

Haha, daripada memikirkan Tante Mita yang ingin ke Mars atau Kak Sinta yang gila Chairil Anwar, lebih baik aku memandangi satu-satu wajah-wajah teman SD-ku yang sedang mandi di pantai ini. Siapa tahu diantara mereka nanti ada yang jadi Presiden Amerika. Kan aku bisa minta untuk buatkan roket agar Tante Mita bisa migrasi ke Mars. Setidaknya berkurang satu anggota keluagaku yang doyan berkhayal padahal sudah punya laki.

Ricki, Saleh, Stevi, Budi, atau siapa ya? Sepertinya semua punya kans yang sama untuk tak mungkin jadi presiden Amerika. Haha, walaupun semua pada doyan nasi goreng, bakso, sateee….

But who knows,…hehehehe….

dilelang : MESIN WAKTU

dilelang : MESIN WAKTU

Bisa dipakai untuk kemana saja. Masa lalu ataupun masa depan. Sudah ada rangkaiannya di kepala. Lengkap dengan bahan baku dan segala teori-teorinya. Cuma tinggal menunggu ahli fisika, kimia, mesin ikut bergabung di proyek ini. Nanti kalau sudah jadi akan aku dedikasikan buat orang-orang patah hati yang ingin kembali ke masa dimana mungkin dapat merubah sesuatu menjadi lebih baik. Juga buat mereka yang pemikirannya jauh melampaui abad ini, mungkin bisa pindah ke masa depan. Dimana visi dan misinya akan lebih dihargai.

Buat koruptor, penculik bayi, penjual anak gadis orang, teroris, makelar kasus, penggelap pajak, bisa dihukum dengan dilempar ke masa dimana tak ada yang bisa mereka korupsi, yang bisa mereka culik, yang bisa mereka sengsarakan. Zaman dinosaurus? Culik sana bayi Dinosaurus! lempar granat sarang dinosaurus. Jual anak gadis dinosaurus, korupsi dunia Dinosaurus, gelapkan pajak Dinosaurus, makelarin kasus dinosaurus!

Ya, mesin waktu ini akan jadi penemuan paling keren abad ini. Akan banyak sekali manfaatnya. Siapapun bisa kembali di zaman yang diinginkan. Bisa untuk meluruskan sejarah yang sama-sama diragukan. Menjawab teka-teki tak terpecahkan. Mewawancarai orang-orang hebat di masa lalu dan masa datang. Bisa belajar dari dunia yang di depan.

Tapi untuk menjaga keseimbangan, kabar-kabarnya mesin waktu ini hanya akan dibikin tunggal. Harganya pasti juga akan sangat mahal. Untuk memilikinya tak boleh sembarangan orang. Harus sesuai prosedur. Ada psikotes dan tes kesehatan juga. Ada standar tertentu bagi yang ingin memilikinya. Termasuk lomba menulis alasan kenapa anda yang paling pantas mendapatkannya. Alasan yang bisa bikin mewek adalah salah satu kemungkinan jadi pemenang.

Mesin waktu ini formulanya akan amat sangat rahasia. Karena bisa jadi sangat berbahaya. Kalau jatuh ke tangan yang salah bisa memicu perang dunia ketiga. Bisa menghancurkan perekonomian banyak negara. Bisa melancarkan penjualan senjata illegal. Bisa menyebarkan virus mematikan. Penyelundupan narkotika dan obat-obat terlarang akan dapat angin segar. Kalau sampai itu terjadi pasti aku akan merasa bersalah. Banyak pihak akan teraniaya.

Ah, sudahlah. Terlalu berbahaya. Lupakan saja. Lelang ini dibatalkan!

FOTO BAYI-BAYI AJAIB

FOTO BAYI-BAYI AJAIB

FOTO BAYI-BAYI AJAIB

Keberadaan/ kehadiran sesosok bayi memang menjadi sebuah keajaiban. Keberadaannya menimbulkan beberapa prilaku yang akan aneh bila dilakukan tanpa adanya bayi tersebut. Diantaranya:

  1. Banyak diantara ibu-ibu yang terkadang, demi sang bayi yang telah berteriak kehausan, menyusukan anaknya di sembarang tempat.hDi angkot, di halte, di taman, di tempat antrian berobat, pokoknya di tempat-tempat umumlah. Tanpa sungkan dan ragu para ibu-ibu ini membuka dadanya dan meneteki bayinya. Gak ada yang salah sih. Semua orang melihatnya sebagai satu kelumrahan yang wajib dilakukan demi sang buah hati. Tapi kalo bayinya gak ada? Trus ibunya buka dada begitu aja di angkot? hayoooo,…..apa jadinya?
  2. Saya suka senyum sendiri kalo lagi menggendong bayi saya untuk menidurkannya. Begitu juga melihat perangai ibu-ibu lain dan bapak-bapaknya juga. Menggendong bayi sambil nyanyi-nyanyi, ayun-ayunkan bayi sambil goyang-goyangkan badan juga. Kebayang gak jika bayinya gak ada dalam gendongan? trus liat ada ibu-ibu/bapak-bapak nyanyi-nyanyi sendiri, sambil menggoyang-goyangkan badan? hehe… aneh khan?
  3. Kalo ada bayi tuh paling asyik main ci luk ba… senang lihat senyumnya sama cekikikannya. Kadang juga suka bikin mimik muka dan suara yang aneh-aneh untuk menarik perhatian sang bayi. Nah gimana tuh kalo main ci luk ba nya gak sama bayi? Sama bos di kantor misalnya, “ Bos bos… ci luk baaaa” hehe, gawat khan?

Begitulah ajaibnya bayi. Bisa bikin prilaku aneh jadi lumrah dan lucu. Ya, asalkan ada bayinya lho,… hehey…

just smile doang,… semua foto2nya pinjeman dari situs dan blog laen,….

Rumah tua, yang beratap bocor dan berdinding lapuk bag. I

Rumah tua, yang beratap bocor dan berdinding lapuk bag. I

Rumah tua, yang beratap bocor dan berdinding lapuk bag. I

Ini bukan puisi, cerpen, atau kisah fiktif. Ini ceritaku. Catatan kecilku yang tak lusuh oleh waktu. Babak dalam kehidupanku yang memang tak pernah mudah. Entahlah. Mungkinkah aku telahir di zaman yang salah. Tapi mensyukuri hari itu dan juga kini. Aku bersyukur bisa menumpang di situ.

Rumah tua, memang begitulah penampakannya. Bukan saja karena rupanya yang memang berantakan, tapi usianya juga memang telah lanjut termakan waktu. Dikisahkan oleh nenekku tersayang (alm). Rumah itu dipindahkan dari satu kampung ke situ. Dijunjung dan di arak beramai-ramai. Aku berkesempatan merajut cinta dan harapan di rumah dan tanah yang bukan milikku.

Pertama kali menampakkan bangunan itu, aku yang masih berusia dua belas tahun, merasa senang bukan kepalang. Hmmm… bagus. Kalau tinggal di rumah tersebut, pasti serasa tidur di rimba saja. Angin malam akan menyelusup lewat dindingnya yang meregang, aku bahkan bisa mengintip orang lewat di halaman lewat lubang-lubang di dinding yang telah lembab tersebut. Dan hei… lewat atap sengnya yang juga berlubang dan berkarat, aku bahkan bisa mengintip bintang-bintang. Sungguh bangunan yang sempurna buatku yang terobsesi dengan cerita petualangan.

Wah, ada lagi…Ada banyak laba-laba bersarang di dindingnya. Merajut rumah mereka dengan benang-benang yang serupa lukisan saja tampaknya. Sungguh, takkan bosan aku mengamati hari di sini.

Tak cuma sampai di situ. Lantainya tanah saja. Haha, bisa bikin tenda dalam rumah. Bisa bikin lubang untuk bermain kelereng. Bahkan bisa menumpahkan air tanpa harus takut mengotori lantai. Sungguh rumah yang kuimpikan!

Rumah tua yang berdinding bocor beratap lapuk. Halamannya luas sekali. Aku bagaikan tarzan yang dilepaskan ke habitatnya. Bergayut ke sana sini, segala macam pohon ada di sini. Beberapa ekor kera juga terlihat begelantungan sana-sini. Akh, apa bedanya aku dengan kera. Tokh kami sama saja tinggal di alam terbuka.

Semak, duri, ular, lintah, jadi pemandangan sehari-hari.

Bersyukur ada Ayah yang baik hati dan pantang menyerah, mengubah semak menjadi tanah lapang untuk bermain. Mengusir duri dan menggantinya menjadi kebun yang menghasilkan.

Bersyukur ada Mama yang baik hati dan pantang menyerah. Menempel dinding yang renggang dengan potongan kalender tua, hingga angin sempat permisi sebelum lewat. Mengemis kepada saudara-saudara tersayang hingga diberi uang untuk mengganti atap yang bocor dengan atap bekas yang tak berlubang.

Bersyukur ada adik yang baik hati dan pantang menyerah. Tak pernah menyesali kehidupan dan bergelantung bersama di pohon rambutan. Mengubah keterbatasan menjadi kenangan yang tak terlupakan.

Beruntung ada teman-teman. Yang tak pernah menertawakan ketakberadaan. Ikut menikmati alam terbuka.

Sungguh aku sangat beruntung.

Rumah tua yang beratap bocor dan berdinding lapuk. Disanalah aku dibesarkan, bertahun-tahun yang tak terlupakan.

Bangunan tua itu terletak di tepi jalan. Dengan halaman luas, kebun, sawah, kolam, dan bukit kecil. Tempat petualangan dan khayal-khayalku yang terbangun dengan setiap langkahku yang tak beralas kaki. Berlompatan di jerami yang wangi karena baru selesai panen padi. Mengangkat air untuk menyiram kebun cabe yang mulai kekeringan. Berlompatan di bukit kecil berlari ke arah kolam lalu berenang dengan ikan-ikan. Akh, sungguh tak kusayangkan aku harus tinggal di bangunan tua.

Bangunan tua. Ini sejarah tentang kehidupanku yang tiada dua. Rindu yang tak terbayarkan di kala senja. Cerita-cerita sendu, lelah, dan dendam yang tak sudah. Ada terkubur di tiang-tiangnya yang telah goyah. Suatu saat aku ingin mengisahkannya hingga sudah.

Rumah tua, yang beratap bocor dan berdinding lapuk. Ini bukan puisi, cerpen, atau kisah fiktif. Ini ceritaku. Catatan kecilku yang tak lusuh oleh waktu. Babak dalam kehidupanku yang memang tak pernah mudah. Aku mensyukurinya.

(gambarnya dipinjam dari blog lain)

Catatan Seorang Sahabat di Facebook

Catatan Seorang Sahabat di Facebook

THE BUILDER FOR YOUR LIFE

Seorang tukang kayu tua bermaksud pensiun dari pekerjaannya di sebuah perusahaan konstruksi real estate. Ia menyampaikan keinginannya tersebut pada pemilik perusahaan. Tentu saja, karena tak bekerja, ia akan kehilangan penghasilan bulanannya, tetapi keputusan itu sudah bulat. Ia merasa lelah. Ia ingin beristirahat dan menikmati sisa hari tuanya dengan penuh kedamaian bersama istri dan keluarganya.

Pemilik perusahaan merasa sedih kehilangan salah seorang pekerja terbaiknya. Ia lalu memohon pada tukang kayu tersebut untuk membuatkan sebuah rumah untuk dirinya. Tukang kayu mengangguk menyetujui permohonan pribadi pemilik perusahaan itu. Tapi, sebenarnya ia merasa terpaksa. Ia ingin segera berhenti. Hatinya tidak sepenuhnya dicurahkan. Dengan ogah-ogahan ia mengerjakan proyek itu. Ia cuma menggunakan bahan-bahan sekedarnya. Akhirnya selesailah rumah yang diminta. Hasilnya bukanlah sebuah rumah baik. Sungguh sayang ia harus mengakhiri kariernya dengan prestasi yang tidak begitu mengagumkan.

Ketika pemilik perusahaan itu datang melihat rumah yang dimintanya, ia menyerahkan sebuah kunci rumah pada si tukang kayu dan berkata “Ini adalah rumahmu, hadiah dari kami.” Betapa terkejutnya si tukang kayu. Betapa malu dan menyesalnya. Seandainya saja ia mengetahui bahwa ia sesungguhnya mengerjakan rumah untuk dirinya sendiri, ia tentu akan mengerjakannya dengan cara yang lain sama sekali. Kini ia harus tinggal di sebuah rumah yang tak terlalu bagus hasil karyanya sendiri.

Itulah yang terjadi pada kehidupan kita. Kadangkala, banyak dari kita yang membangun kehidupan dengan cara yang membingungkan. Lebih memilih berusaha ala kadarnya ketimbang mengupayakan yang baik. Bahkan, pada bagian-bagian terpenting dalam hidup kita tidak memberikan yang terbaik. Pada akhir perjalanan kita terkejut saat melihat apa yang telah kita lakukan dan menemukan diri kita hidup di dalam sebuah rumah yang kita ciptakan sendiri. Seandainya kita menyadarinya sejak semula kita akan menjalani hidup ini dengan cara yang jauh berbeda.

Renungkan bahwa kita adalah si tukang kayu. Renungkan rumah yang sedang kita bangun. Setiap hari kita memukul paku, memasang papan, mendirikan dinding dan atap. Mari kita selesaikan rumah kita dengan sebaik-baiknya seolah-olah hanya mengerjakannya sekali saja dalam seumur hidup. Biarpun kita hanya hidup satu hari, maka dalam satu hari itu kita pantas untuk hidup penuh keagungan dan kejayaan. Apa yang bisa diterangkan lebih jelas lagi. Hidup kita esok adalah akibat sikap dan pilihan yang kita perbuat hari ini. Hari perhitungan adalah milik Tuhan, bukan kita, karenanya pastikan kita pun akan masuk dalam barisan kemenangan.

Source :

“Hidup adalah proyek yang kau kerjakan sendiri”.

- maaf bila ternyata proyek yang saya kerjakan atas nama kehidupan kadang berjalan keluar arah, tapi bukan berarti saya tidak berusaha membanting setir untuk bisa mengembalikan arah. maaf bila kadang saya melakukan hal-hal yang mengecewakan kalian, tapi bukan berarti saya tidak berusaha untuk memberikan maksimalisasi terhadap apapun bagi kebahagiaan kalian. kalian yang berada disini, masuk dalam tag ini adalah orang-orang yang berarti dalam hidup saya meskipun saya sadar saya mungkin telah mengecewakan kalian. saya hanya berharap, jalanilah hidup kalian dengan memberikan penghargaan terbaik sebelum akhirnya kalian menyesal karna apapun kini, lampau ataupun esok hari. merupakan sebuah cerita yang akan dipertanggung jawabkan kelak kepadaNYA. terima kasih atas keindahan dari hati kalian yang membuat hidup saya lebih berwarna dan maafkan kekhilafan saya yang tidak luput dari kata salah karna saya juga manusia dengan banyak kealpaan -

Ata Notonogoro

Apapun yang terjadi : Aku Cinta Indonesia!

Apapun yang terjadi : Aku Cinta Indonesia!

Indonesia tanah airku
Tanah tumpah darahku
Disanalah aku berdiri
Jadi pandu ibuku

Indonesia kebangsaanku
Bangsa dan Tanah Airku
Marilah kita berseru
Indonesia bersatu

Hiduplah tanahku
Hiduplah negriku
Bangsaku Rakyatku semuanya
Bangunlah jiwanya
Bangunlah badannya
Untuk Indonesia Raya

Indonesia Raya
Merdeka Merdeka
Tanahku negriku yang kucinta

Indonesia Raya
Merdeka Merdeka
Tanahku negriku yang kucinta

Indonesia Raya
Merdeka Merdeka
Hiduplah Indonesia Raya

Waktu SD dulu… Lagu itu selalu aku tunggu-tunggu. Sambil menegakkan badan, menghormat bendera, dan mengkhidmati lantunan nada dari mereka yang menyanyikannya. Ikut mengucap syainya juga dalam dada. Wah bangganya.

Setiap Senin, aku selalu berusaha untuk dapat berbaris di muka. Tak susah, karena banyak teman justru malas kalau harus pasang badan di depan. Tapi buatku itu menyenangkan. Biarpun panas dan berkeringat. Tokh, upacara bendera tak lama. Kata guru dan orang tuaku, tak bisa dibandingkan kesediaan kita mengikuti upacara bendera bila dibandingkan dengan perjuangan para pahlawan dulu di medan perang. Mengorbankan harta dan nyawa. Semua demi kemerdekaan bangsa yang sedang dalam belenggu penjajahan. Hebatnya mereka. Akupun ingin demikian. Menjadi srikandi, dan menyelamatkan bangsa ini. Bergerilya serta bertempur melawan mereka yang merampas harkat dan martabat bangsa. Sungguh, begitu khayalku saat itu. SD.

Makanya, setiap upacara bendera, aku selalu khidmat mengikuti. Sambil berjanji dalam hati, aku akan menjadi bagian dalam mengawal kemerdekaan yang telah susah payah diperjuangkan oleh para pahlawan. Akh, angan yang terlalu sempuna untuk ukuran seorang bocah. Tapi demikianlah yang sesungguhnya. Aku merasa memiliki negeri ini. Merasa wajib menjaga dan mencintainya. Entah bagaimana caranya.

Setidaknya setiap upacara bendera, aku tak mau main-main. Apalagi bercanda dan menertawakan teman lain. Kalau ada yang begitu, biarkanlah. Yang penting, aku berusaha menghargai negeri ini, dengan mendeklamasikan nada-nada kebangsaan di nadiku. Hingga saat mengheningkan cipta, aku selalu hanyut. Larut dalam imajinasi yang kubangun sendiri. Dengan para pahlawan di medan perang. Dan makam mereka yang bertabur bunga. Terkadang satu-satu menitik juga air mataku. Entah karena apa, jauh sudah, tak sampai ingatanku kini. Kenapa waktu itu aku bisa terharu seperti itu.

Sekarang. Sekian waktu telah terlampau sejak masa SD dahulu. Begitu banyak peristiwa yang dialami Indonesia yang kusayangi. Pengkhianatan para oknum wakil rakyat, penguasaan kekayaan bumi sepihak, penghambaan masyarakatnya pada materi semata, hilangnya semua sendi-sendi yang kuhapal luar kepala dari masa lalu, perampokan hasil keringat rakyat jelata oleh oknum pejabat dan pengusaha, pengrusakan, anarkisme, perang argumen yang tak jelas ujung pangkal, teroris, dan bertumpuk kekecewaan terhadap birokrasi, peradilan, hingga berbagai masalah yang hanya Tuhanlah yang tahu apa akan terselesaikan dan bagaimana jadinya bangsa ini ke depan.

Pekat mata terasa menonton berita dan membaca koran pagi. Jengah telinga mendengar ucap pembenaran antara satu pihak dan yang lainnya. Semak rasa membaui semua kemunafikan dan tak kejelasan yang kusut masai dalam pandanganku. Dimana rasa kebangsaan? Kemana nada Indonesia Raya?

Buatku, masih seperti SD dahulu. Ketika upacara bendera. Tegakkan badan dan tetap pada tujuan awal. Jika ada yang tak mengindahkan. Jika ada yang menyelewengkan. Jika ada yang benar tak peduli, biarlah. Terserahlah. Aku akan tetap membuncahkan irama Indonesia Raya dalam dadaku. Mengawal Indonesia dengan apapun, sekecil apapun pengobanan yang bisa kulakukan. Akan tetap aku kerjakan. Dan, bila kemarahan dan kemuakkan telah sampai pada titik yang tak lagi bisa kuelakkan. Kumatikan sajalah televisi. Menutup mata dan coba lantunkan syair Mengheningkan Cipta. Serta lagu kebangsaan lainnya.

Mengheningkan cipta….

Dengan seluruh angkasa raya memuji
Pahlawan negara
Nan gugur remaja diribaan bendera
Bela nusa bangsa

Kau kukenang wahai bunga putra bangsa
Harga jasa
Kau Cahya pelita
Bagi Indonesia merdeka

melanjutkannya dengan….

Indonesia tanah air beta
Pusaka abadi nan jaya
Indonesia sejak dulu kala
Tetap di puja-puja bangsa
Di sana tempat lahir beta
Dibuai dibesarkan bunda
Tempat berlindung di hari tua
Tempat akhir menutup mata

Membiarkan maknanya meresap dalam dada. Menyejukkan hati dan menggiring rasaku kembali pada cinta tanah air. Hingga bila kubuka mata. Aku tahu, apapun yang terjadi, aku akan selalu mencintai negeri ini!

MERDEKA!

PUTRI LAUT

PUTRI LAUT

Sebenarnya malam ini pingin posting sesuatu tentang R A Kartini. Tapi entah kenapa malah ingat sama hal-hal lain yang nggak penting. Ingatan tentang esok, kemarin, dan berbagai antah berantah lainnya. Mana semalam mimpi asyik sekali. Hi, nggak asyik-asyik amat juga. Agak mengerikan malah. Tapi endingnya seru. Kayak cerita kartun gitu dan diiringi oleh nyanyian Phil Collins pula. Hihii… Iramanya rada mirip dengan You’ll be in my heartnya Tarzan. Tapi syairnya beda.

Penasaran sama mimpiku? Gini nih, cerita singkatnya. Aku, keluargaku, atau entah siapa. Pokoknya seseorang yang dekat denganku, terlibat sebuah pembunuhan. Serem kan?  Situasi tersebut membuat ibuku yang punya ilmu sihir, aku dan seorang adikku harus melarikan diri dari incaran musuh dan polisi. Kami kesana kemari dengan ketakutan. Tapi beruntung ibuku selalu bisa ngalahin pengejarnya. Nah, karena hampir putus asa, Ibu terjun ke laut. Aku dan adik ditinggalin tempat nenek. Tak lama, Ibu muncul lagi dan mengajak kami ikut. Awalnya aku takut banget. Tapi akhirnya aku setuju, lalu naik di atas punggung lumba-lumba.

Sebelum menyelam ke dasar laut, ada syarat yang musti dilakukan. Aku harus meninggalkan semua yang aku bawa dari dunia ‘atas’ di sebuah karang berwarna merah jambu. Aku sedih sekali harus meninggalkan sebuah jepitan rambut berwarna merah jambu pemberian nenek. Tapi akhirnya aku melepasnya juga. Dan byuuuur… lumba-lumba itu menyelam ke dalam laut. Dikawal Ibu dan adikku di sampingnya berenang menuju dasar laut. Melihat aneka binatang laut yang say ‘hai’ dan berlomba berenang mengejarku. Dalam mimpi tersebut, aku adalah seorang anak perempuan berusia kira-kira delapan tahun dengan rambut panjang dan kulit coklat.

Wiiii, seru banget berputar-putar di bawah sana, terasa kayak beneran. Dan aku merasa senang sekali. Apalagi ditambah alunan nyanyian Phil Collins ” Hidup di laut, bermain air tiap hari…”

Hmmm, ya. Begitulah kira-kira mimpiku semalam. Aneh ya? Iya. Akupun merasa aneh. Sampai-sampai posting tentang Kartini jadi cerita mimpiku ini.

:-)

ANAK HILANG

ANAK HILANG

Tadi ada yang seru. Seru apanya? Lha wong ada anak hilang kok seru. Kebangetan! Coba kalau anak sendiri yang hilang. Bisa pingsan mungkin. Iya… tadi sore, cuaca lagi mendung-mendung syahdu. In lagi mondar-mandir nggak jelas, hehe… maksudnya lagi ngerjain ini itu. Kok kedengeran ada anak menangis. Mana suaranya kenceng banget lagi. Tapi akh, biasalah. Anak kita, anak tetangga juga sering teriak nangis. Tapi karena itu, kebiasaan dengar teriakan anak-anak jadi hapal deh jenis dan volume teriakan mereka. Nah, yang ini kok beda? Anak siapa ya? Penasaran. Aku hampiri anak tersebut. Wah, nggak kenal nih. Bukan anak dekat-dekat sini. Tapi tuh anak pengertian banget, begitu dikasih permen sama minuman, langsung diam. Kasihan, kehausan kali’. Mana matanya udah bengkak.

Tidak menunggu lama, banyak orang sudah berkerumun berusaha mengidentifikasi si bocah. Ribut, berusaha mewawancarainya. Weleh, weleh… dah kayak detektif aja lagak semuanya. Si bocah malah cuma “no comment” doang. Alias diam, hihiii… Akhirnya diambil kesimpulan kalau Si Bocah masih shock dan perlu waktu untuk berpikir. Mending di kawal ke komplek sebelah, kali’ ada yang kehilangan anak.

Barengan orang-orang ngawal anak hilang ini. Oya, cowok. Umurnya sekitar tiga tahunan. Baru membelok di ujung gang, kelihatan seorang Bapak manggil-manggil. Hohoho, anak dia ternyata. Rupa-rupanya mereka baru pindah ke daerah ini dan ngekost di sini. Ampuuuun. Anak hilang dari tadi kok nggak dicariin? Bikin heboh sekampung aja. Mana ekspresinya tuh Bapak biasa aja lagi. Nggak kelihatan kehilangan. Aneh… aneh. Runyam… runyam…

(oya foto di atas hasil search di google, nggak foto anak yang tadi…)

Berbuat yang Terbaik

Berbuat yang Terbaik

Catatan IINSYAH

Ketika ada seorang pemabuk berat berhenti mabuk, seluruh keluarga, rekan, dan teman akan bersukacita. Sungguh bersyukur. Biarlah hari-harinya kemudian dihabiskan dengan berdiam diri di rumah dan menghabiskan berbungkus-bungkus rokok. Tak apalah, Alhamdullillah dia tak mabuk lagi.

Ketika ada seorang perokok berat memutuskan untuk berhenti merokok. Betapa itu kabar yang membuat semua bergembira. Biarlah dia tak bekerja. Tak merokok saja sudah bagus. Setidaknya mengurangi anggaran belanja keluarga dan baik untuk kesehatannya.

Ketika seseorang yang tak mau bekerja memutuskan untuk mencari pekerjaan, keluarga dan teman-teman sungguh senang. Tak apa kerjaannya masih asal-asalan saja. Dia telah punya niat mau bekerja saja adalah sebuah anugrah.

Suatu saat ketika orang yang biasa bekerja asal-asalan memutuskan untuk bekerja dengan benar dan berbuat sebaik-baiknya terhadap pekerjaannya. Keluarga, teman,rekan, kerja, dan atasan menyambut baik dan berkata,”syukurlah kau sadar dan berubah.”

Tetapi teman adakalanya ketika seseorang telah berbuat yang terbaik terhadap keluarga, teman, pekerjaan, dan lingkungannya. Berusaha dengan segenap kemampuan dan berusaha untuk memenuhi standar yang diinginkan banyak orang tentang kehidupan. Dan suatu waktu dia berbuat kesalahan yang fatal. Satu kesalahan saja. Tak banyak yang akan berkata “Syukurlah, selama ini kamu berbuat yang terbaik, baru kali ini saja ada kekhilafan yang kau lakukan. Tak apa, itu bisa kita perbaiki bersama. Aku bahagia bisa melalui kesalahan ini bersamamu.”

Aku merasa belum cukup berbuat yang terbaik selama ini dalam hidupku. Tapi aku selalu berusaha untuk itu. Meskipun belum memenuhi standar yang diinginkan banyak orang di sekelilingku. Demikianpun masih terasa menyakitkan ketika ada tudingan yang menyakitkan mampir di kupingku. Walau aku sadar, semua memang adalah tugasku untuk membenahinya. Dan aku bersyukur ada sedikit diantara orang-orang tersebut yang berdiri di sampingku dan berkata,”semua akan baik-baik saja.” Terima kasih tak terhingga untuk mereka.

Akh, ini cuma sekedar catatan singkat. Semoga ada manfaatnya untuk renungan teman-teman sesaat. Keberadaanmu mungkin bukan siapa-siapa, tapi pasti berarti buat seseorang yang merasa kau ‘ada’ di kala mereka membutuhkan.

Salam…

PERBINCANGAN

PERBINCANGAN

Apa yang kau inginkan sayang?

Tak ada, aku hanya ingin segera tua.
Anak-anak dewasa, kuliah, kerja, menikah.
Menikmati hidup mereka dengan bahagia.
Dikau, daku, kita sehat-sehat saja, lalu kembali
berpetualang menyudahi mimpi-mimpi kita

Kau aneh. Takkah kau ingin berlomba dengan
iklan-iklan kecantikan, dengan produk-produk penunda penuaan,
dengan segala macam aksesoris mewah atau imitasi
untuk sekedar bisa melawan jalan aturan main revolusi Bulan dan Bumi

Tapi itulah yang aku inginkan, segera tua.
Menyenangkan menghitung kerut di wajah nenek kita
yang air mukanya bijaksana, welas asih, dan selalu mengerti
kapan akan menangis bersama, kapan berkata tidak enak badan,
dan kapan membagikan uang walau tak seberapa.
Aku ingin seperti dia.

Aku tak mengerti. Walau sekian purnama kita berbagi kasih.
Aku tak juga memahami, setiap kata, tanya, dan pandang mata,
angan, harapan, puisimu yang berisi dendam rayu pada semua
masa lalumu yang tertinggal.
Aku tak pernah bisa menebak arah dan dalam relung mimpimu
yang selalu berganti rupa

Tak apa. Hatiku memang terbelah seribu. Di berbagai penghujung
kekecewaan, dendam, cinta, angkara, dusta, ragu, pilu, mimpi, dan rindu.
Tak mengapa, itu hanya onggokan rasa yang kan kubawa tua
bersama cinta terpilih yang kuyakini ada di dadamu.

Aku memang tak pernah mengerti.Tapi sayang, percayalah.
Aku juga ingin segera tua, lalu kita menyendiri di sudut desa yang dingin
di kamar yang sepi.
Berdua, ya hanya berdua saja tanpa televisi dan kesibukan yang menjerat
Kamu akan menulisi seribu kenanganmu yang tertunda
dan aku akan melukisi wajahmu yang telah tua.
Ya sayang, akupun ingin segera tua. Bersamamu pastinya…

Girian, April 2010
buat hari-hari tersibukku
yang membuat kita sama rindu
menjemput tua.

Tulisku: RESAH

Tulisku: RESAH

Entah apa
aku menjamu pengap di ruang hati yang indah
memang mendung, tapi bukan itu
ada yang salah
sesuatu yang menjalari, menyerangku dengan
niscaya berwarna jingga
ada yang salah
mengetuki dinding hati merah muda dan pura-pura
memberiku pilihan gundah yang semakin membuatku
merasa bersalah
benar aku salah, tapi apa?
tulisku: Resah
masih resah dan semakin gundah
ada di dalam sini
tak teraba namun terasa
berkelana dalam jiwa dan ingin segera kumaknai sempurna
akh, entah apa.
memang mendung, tapi resahku itu
lebih bergairah dari sekedar menunggu hujan turun
di sini,
hati yang lebih murung dari sekedar mendung tak berujung

BAKWAN IKAN CAKALANG

BAKWAN IKAN CAKALANG

BAKWAN IKAN CAKALANG (Katsuwonus pelamis)

Bahan :
- satu ekor ikan Cakalang. Atau ikan apa saja deh. Soalnya nggak tahu juga di daerah lain ikan ini namanya apaan. Kalo kata om google sih di Jepang namanya katsuo. Nggak tahu kalau di Jawa, Sumatera, dll. Hehe… Kan kasihan juga kalau ke pasar terus tanya “Pak, pak, jual Katsuwonus pelamis nggak?” Wah bisa bingung. So, nggak usah pusing. Ikan apa saja bisa, asal nggak banyak tulangnya. Antisipasi. Soalnya resep ini lebih dikhususkan buat anak-anak.
- telur, banyaknya disesuain sama banyak daging olahan.
- garam, di rasa-rasain aja. Kira-kira udah asin, ya keasinan hehe… Janganlah… se pasnya aja.
- gula, kata orang-orang buat pengganti msg. Kata aku sih, buat perasa makanan. Kalo nggak suka manis ya dikit saja. Kalau doyan manis, jangan banyak- banyak juga, nantinya malah jadi keik Cakalang.
- mentega, ini sih, bisa-bisanya aku saja. Kebetulan masih ada stock sedikit sisa bikin kue, kasihan dibuang. Jadi masukin resep aja hehe…
- minyak, buat ngegoreng lah ya.
- dll (kalo ada yg suka pedas boleh pake cabe. Kalo ada yang mau tambah merica boleh-boleh juga. Doyan bawang? tambahin saja. Pokoknya bebas bebas bebas.)
Wah udah panjang tuh cerita bahannya. Langsung saja ya cara bikinnya:
Ikan cakalang tadi dipotong-potong, dibersihin, digaremin. Digoreng deh! Gorengnya nggak sampai kriyuk-kriyuk. Cukup selayang pandang aja. Biar gampang dilumetin nanti. Udah githu daging tersebut dilumetin, dihancurin, cukup pakai sendok aja. Sambil kalau ketemu tulangnya ya dibuang. Kasihan kalo sampai termakan sama anak-anak.
Udah? Nah pecahin telur langsung campur dengan daging tadi, sambil di masukin garam, gula, dan sedikit mentega. Aduk-aduk dikit. Nggak perlu lama-lama. Sambil panasin minyak. Kalau pakai kompor gas yang 3 kilogram saya nggak ikut bertanggungjawab ya kalau terjadi ledakan pas bikin resep ini, hehe…
Kalau udah, tinggal digoreng aja… sama kayak ngegoreng bakwan. Pakai api sedang. Kalau api kecil, ntar kelamaan nunggunya…
Nah, jadi deh : Bakwan Cakalangnya. Atau biar keren boleh dinamai kornet katsuo. Kata anak-anakku sih yang biasanya anti banget makan ikan, “Bunda enak!”
Gimana, mau dicoba? Dijamin bakalan beda dari pada makan mie instan mulu, terutama buat anak-anak kost hehehe…

Ups, yang kubikin hasilnya juga nggak seindah gambar ini. Tapi tetap aja lezat. :-)

Selamat mencoba….

Mencintaimu Bersama Langit

Mencintaimu Bersama Langit

Aku mencintaimu bersama langit
masih sama seperti ketika untuk pertama kali memandangmu di garis batas
Khatulistiwa yang panas.

Masih sama seperti
seberkas sinar
yang menyentuhku
menepuk pelan pundakku
dan menuntunku bersama baginda waktu

Aku mencintaimu
tapi tak bisa

menghapus lukisan kutukan dewa-dewa
di tapakku yang keras
tentang arah perjalanan yang berbeda
tentang liku tanjakan yang tak searah
tentang musim-musim tak sama

Langit mencintaiku bersamamu
tapi tak bisa
menuntun kita bersua
di kaki langitnya khatulistiwa

Tak ingin langit menangis
hanya karena kita dan cinta
dekap aku di langitmu saja

Karena cinta
hanya milik para dewa…

OLEH-OLEH PNEUMONIA DARI RAPAT TADI SIANG

OLEH-OLEH PNEUMONIA DARI RAPAT TADI SIANG

Hari ini sebenarnya sangat melelahkan. Tadi malam aku dinas malam, jam dua belas ditelpon teman karena pasien di Poskesdesnya yang sedang dalam proses persalinan mengalami sedikit masalah. Kala II-nya lama. Mungkin disebabkan karena jarak kehamilan I dan keduanya yang sudah lima belas tahun.

Aku dijemput suami sang pasien dan langsung ke lokasi jam dua belas malam itu. Mana jalan yang tempat biasa kita lewat (dekat sih) ditutup karena ada acara. Jadi harus berbelok mengikuti jalan lain yang lumayan jauh.

Sampai di sana, syukurlah, bayinya sudah lahir. Tapi apgar score nya kelihatan kurang baik. Kami memutuskan untuk merujuk bayi itu ke RS terdekat. Alhamdullillah, kabar terakhir yang kudapat sekarang bayi dan ibunya dalam keadaan sehat.

Nah, ketika balik ke Puskemas sudah hampir jam tiga, sudah tidak mengantuk lagi, walau akhirnya tertidur juga.

Paginya ternyata ada meeting di Puskesmas. Agenda bulanan, untuk membahas program yang sudah dilaksanakan selama sebulan yang lewat. Duh, kebayang kan ngantuknya aku. Tapi berhubung suasana meetingnya seru, ngantuknya jadi berkurang bahkan nyaris terlupakan.

Nah, untuk oleh-oleh hasil meetingnya, In posting di sini soal salah satu pokok bahasan kami tadi yaitu tentang PNEUMONIA

Semoga bermanfaat!

__________________________________________________________________________________________

PNEUMONIA

Pengertian Pnemonia
Pnemonia adalah proses infeksi akut yang mengenai jaringan paru-paru (alveoli). Terjadinya pnemonia pada anak seringkali bersamaan dengan proses infeksi akut pada bronkus (biasa disebut bronchopneumonia). Gejala penyakit ini berupa napas cepat dan napas sesak, karena paru meradang secara mendadak. Batas napas cepat adalah frekuensi pernapasan sebanyak 50 kali per menit atau lebih pada anak usia 2 bulan sampai kurang dari 1 tahun, dan 40 kali permenit atau lebih pada anak usia 1 tahun sampai kurang dari 5 tahun. Pada anak dibawah usia 2 bulan, tidak dikenal diagnosis pnemonia.
Pneumonia Berat ditandai dengan adanya batuk atau (juga disertai) kesukaran bernapas, napas sesak atau penarikan dinding dada sebelah bawah ke dalam (severe chest indrawing) pada anak usia 2 bulan sampai kurang dari 5 tahun. Pada kelompok usia ini dikenal juga Pnemonia sangat berat, dengan gejala batuk, kesukaran bernapas disertai gejala sianosis sentral dan tidak dapat minum. Sementara untuk anak dibawah 2 bulan, pnemonia berat ditandai dengan frekuensi pernapasan sebanyak 60 kali permenit atau lebih atau (juga disertai) penarikan kuat pada dinding dada sebelah bawah ke dalam.
Penanggulangan penyakit Pnemonia menjadi fokus kegiatan program P2ISPA (Pemberantasan Penyakit Infeksi Saluran Pernafasan Akut). Program ini mengupayakan agar istilah Pnemonia lebih dikenal masyarakat, sehingga memudahkan kegiatan penyuluhan dan penyebaran informasi tentang penanggulangan Pnemonia.
Program P2ISPA mengklasifikasikan penderita kedalam 2 kelompok usia:
Usia dibawah 2 bulan (Pnemonia Berat dan Bukan Pnemonia)
Usia 2 bulan sampai kurang dari 5 tahun (2 bulan – Pnemonia, Pnemonia Berat dan Bukan Pnemonia )
Klasifikasi Bukan-pnemonia mencakup kelompok balita penderita batuk yang tidak menunjukkan gejala peningkatan frekuensi nafas dan tidak menunjukkan adanya penarikan dinding dada bagian bawah ke dalam. Penyakit ISPA diluar pnemonia ini antara lain: batuk-pilek biasa (common cold), pharyngitis, tonsilitis dan otitis. Pharyngitis, tonsilitis dan otitis, tidak termasuk penyakit yang tercakup dalam program ini.
Pneumonia merupakan masalah kesehatan di dunia karena angka kematiannya tinggi, tidak saja dinegara berkembang, tapi juga di negara maju seperti AS, Kanada dan negara-negara Eropah. Di AS misalnya, terdapat dua juta sampai tiga juta kasus pneumonia per tahun dengan jumlah kematian rata-rata 45.000 orang.
Di Indonesia, pneumonia merupakan penyebab kematian nomor tiga setelah kardiovaskuler dan tuberkulosis. Faktor sosial ekonomi yang rendah mempertinggi angka kematian. Gejala Pneumonia adalah demam, sesak napas, napas dan nadi cepat, dahak berwarna kehijauan atau seperti karet, serta gambaran hasil ronsen memperlihatkan kepadatan pada bagian paru
Kepadatan terjadi karena paru dipenuhi sel radang dan cairan yang sebenarnya merupakan reaksi tubuh untuk mematikan luman. Tapi akibatnya fungsi paru terganggu, penderita mengalami kesulitan bernapas, karena tak tersisa ruang untuk oksigen. Pneumonia yang ada di masyarakat umumnya, disebabkan oleh bakteri, virus atau mikoplasma ( bentuk peralihan antara bakteri dan virus ). Bakteri yang umum adalah streptococcus Pneumoniae, Staphylococcus Aureus, Klebsiella Sp, Pseudomonas sp,vIrus misalnya virus influensa.

Mengobati Pneumonia
Anda mengalami tanda-tanda penumonia ?, Jangan khawatir, kesempatan sembuh masih amat besar dengan syarat-syarat berikut ini; usia masih muda, dideteksi sejak dini, sistem kekebalan tubuh bekerja dengan baik, infeksi belum menyebar, dan tidak ada infeksi lain.
Pengobatan awal biasanya adalah antibiotik, yang cukup manjur mengatasi penumonia oleh bakteri, mikoplasma dan beberapa kasus rickettsia.
Untuk pneumonia oleh virus sampai saat ini belum ada panduan khusus, meski beberapa obat antivirus telah digunakan. Kebanyakan pasien juga bisa diobati dirumah. Biasanya dokter yang menangani peneumonia akan memilihkan obat sesuai pertimbangan masing-masing, setelah suhu pasien kembali normal, dokter akan menginstruksikan pengobatan lanjutan untuk mencegah kekambuhan. Soalnya, seranganberikutnya bisa lebih berat dibanding yang pertama. Selain antibiotika, pasien juga akan mendapat pengobatan tambahan berupa pengaturan pola makan dan oksigen untuk meningkatkan jumlah oksigen dalam darah.
Pada pasien yang berusia pertengahan, diperlukan istirahat lebih panjang untuk mengembvalikan kondisi tubuh. Namun, mereka yang sudah sembuh dari dari pneumonia mikoplasma akan letih lesu dalam waktu yang panjang. Secara rutin, pasien yang sudah sembuh dari pneumonia jangan dilarang kembali melakukan aktifitasnya. Namun mereka perlu diingatkan untuk tidak langsung melakukan yang berat-berat. Soalnya, istirahat cukup merupakan kunci untuk kembali sehat.
Untuk menangani pernapasan akut parah ( Severe Acute Respiratory Syndrom/SARS) yang masih misterius, organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menganjurkan para petugas kesehatan untuk menerapkan Universal Precautions. Artinya, mereka harus mengenakan sarung tangan, masker, sepatu boot dan jas yang melindungi seluruh tubuh dari kontak langsung dengan penderita. Buat penderitanya juga dianjurkan untuk mengenakan masker dan pelindung lain sampai SARS-nya ditanggulangi. Pasien yang dicurigai atau kemungkinan besar terkena SARS harus diisolasi. Ruang perawatannya harus bertekanan rendah dengan pintu tertutup rapat, tidak sharing dengan pasien lain ( termasuk dengan pasien sindrom serupa ) dan punya fasilitas kamar mandi dan kloset sendiri.
Semua peralatan yang digunakan sebaiknya sekali pakai dan ruangan dibersihkan dengan menggunakan desinfektans yang mengandung antibakteri, antivirus dan antijamur. Pasien sebaiknya dijaga tidak banyak bergerak. Pasien maupun para petugas kesehatan yang menangani dianjurkan untuk selalu mencuci tangan dengan sabun untuk menghindari penyebaran. Karena antibiotika berspekturm luas tidak menunjukkan efektifitas menangani SARS, WHO lebih menganjurkan untuk memanfaatkan suntikan intravena ribavirin dan steroid untuk menstabilkan kondisi pasien yang sudah kritis.

Kenali Pneumonia biar tak Terlambat
PNEUMONIA sebenarnya bukan peyakit baru. American Lung Association misalnya, menyebutkan hingga tahun 1936 pneumonia menjadi penyebab kematian nomor satu di Amerika. Penggunaan antibiotik, membuat penyakit ini bisa dikontrol beberapa tahun kemudian. Namun tahun 2000, kombinasi pneumonia dan influenza kembali merajalela dan menjadi penyebab kematian ketujuh di negara itu.
Pneumonia adalah infeksi yang menyebabkan paru ? paru meradang. Kantung-kantung udara dalam paru yang disebut alveoli dipenuhi nanah dan cairan sehingga kemampuan menyerap oksigen menjadi kurang. Kekurangan oksigen membuat sel-sel tubuh tidak bisa bekerja. Gara ? gara inilah, selain penyebaran infeksi ke seluruh tubuh, penderita pneumonia bisa meninggal. Sebenarnya pneumonia bukanlah penyakit tunggal. Penyebabnya bisa bermacam-macam dan diketahui ada 30 sumber infeksi, dengan sumber utama bakteri, virus, mikroplasma, jamur, berbagai senyawa kimia maupun partikel.

Pneumonia Oleh Bakteri
Pneumonia yang dipicu bakteri bisa menyerang siapa saja, dari bayi sampai usia lanjut. Pencandu alkohol, pasien pasca-operasi, orang-orang dengan penyakit gangguan pernapasan, sedang terinfeksi virus atau menurun kekebalan tubuhnya, adalah yang paling berisiko. Sebenarnya bakteri penyebab pneumonia yang paling umum adalah Streptococcus pneumoniae sudah ada di kerongkongan manusia sehat. Begitu pertahanan tubuh menurun oleh sakit, usia tua, atau malnutrisi, bakteri segera memperbanyak diri dan menyebabkan kerusakan.
Seluruh jaringan paru dipenuhi cairan dan infeksi dengan cepat menyebar ke seluruh tubuh melalui aliran darah. Pasien yang terinfeksi pneumonia akan panas tinggi, berkeringat, napas terengah-engah, dan denyut jantungnya meningkat cepat. Bibir dan kuku mungkin membiru karena tubuh kekurangan oksigen. Pada kasus yang eksterm, pasien akan mengigil, gigi bergemelutuk, sakit dada, dan kalau batuk mengeluarkan lendir berwarna hijau. Sebelum terlambat, penyakit ini masih bisa diobati. Bahkan untuk pencegahan vaksinnya pun sudah tersedia.

Pneumonia Oleh Virus
Setengah dari kejadian pneumonia diperkirakan disebabkan oleh virus. Saat ini makin banyak saja virus yang berhasil diidentifikasi. Meski virus-virus ini kebanyakan menyerang saluran pernapasan bagian atas-terutama pada anak-anak- gangguan ini bisa memicu pneumonia. Untunglah, sebagian besar pneumonia jenis ini tidak berat dan sembuh dalam waktu singkat.
Namun bila infeksi terjadi bersamaan dengan virus influensa, gangguan bisa berat dan kadang menyebabkan kematian, Virus yang menginfeksi paru akan berkembang biak walau tidak terlihat jaringan paru yang dipenuhi cairan.
Gejala Pneumonia oleh virus sama saja dengan influensa, yaitu demam, batuk kering sakit kepala, ngilu diseluruh tubuh. Dan letih lesu, selama 12 ? 136 jam, napas menjadi sesak, batuk makin hebat dan menghasilkan sejumlah lendir. Demam tinggi kadang membuat bibir menjadi biru.

Pneumonia Mikoplasma
Pneumonia jenis ini berbeda gejala dan tanda-tanda fisiknya bila dibandingkan dengan pneumonia pada umumnya. Karena itu, pneumonia yang diduga disebabkan oleh virus yang belum ditemukan ini sering juga disebut pneumonia yang tidak tipikal ( Atypical Penumonia ).
Pneumonia mikoplasma mulai diidentifikasi dalam perang dnia II. Mikoplasma adalah agen terkecil dialam bebas yang menyebabkan penyakit pada manusia. Mikoplasma tidak bisa diklasifikasikan sebagai virus maupun bakteri, meski memiliki karakteristik keduanya.
Pneumonia yang dihasilkan biasanya berderajat ringan dan tersebar luas. Mikoplasma menyerang segala jenis usia. Tetapi paling sering pada anak pria remaja dan usia muda. Angka kematian sangat rendah, bahkan juga pada yang tidak diobati.
Gejala yang paling sering adalah batuk berat, namun dengan sedikit lendir. Demam dan menggigil hanya muncul di awal, dan pada beberapa pasien bisa mual dan muntah. Rasa lemah baru hilang dalam waktu lama.

Pneumonia Jenis Lain
Termasuk golongan ini adalah Pneumocystitis Carinii pnumonia ( PCP ) yang diduga disebabkan oleh jamur, PCP biasanya menjadi tanda awal serangan penyakit pada pengidap HIV/AIDS.
PCP bisa diobati pada banyak kasus. Bisa saja penyakit ini muncul lagi beberapa bulan kemudian, namun pengobatan yang baik akan mencegah atau menundah kekambuhan.
Pneumonia lain yang lebih jarang disebabkan oleh masuknya makanan, cairan , gas, debu maupun jamur.
Rickettsia- juga masuk golongan antara virus dan bakteri-menyebabkan demam Rocky Mountain, demam Q, tipus, dan psittacosis. Penyakit-penyakit ini juga mengganggu fungsi Paru, namun pneumonia tuberkulosis alis TBC adalah infeksi paru paling berbahaya kecuali dioabati sejak dini.

sumber : http://www.infeksi.com/articles.php?lng=in&pg=48

Sekotak Cinta, Mana?

Sekotak Cinta, Mana?

melekat dalam hadirmu siang itu
membuatku terpana dan bertanya

“ ada apa?”

masih ada rasa itu

“dimana?”

di hatimu yang tanpa kamu sadari sudah kamu rasakan
benarkah? padahal luas angkasa tak terlihat tepinya
kamu punya arahnya?

“ biarkan itu menoreh dalam rasa dan teringat dalam bayangan walau hanya sedikit”

melepasnya bahkan tak pernah
dalam sebuah perjalanan
itu cerita yang tak bisa pergi

membuatku menelusuri jejakmu sekian jauh
di semua orang yang lewat kutanya saja
mana kamu

pada setiap kunang-kunang dan lampu
kuceritakan kisahku
tentang kamu
entah dimana waktu itu

tapi
aku tak pernah melihat bayangmu
perlahan terkikis jarak dan salam pengantar kenangan
meski tak hilang benar
wajahmu yang asing dan hilang waktu

“ ketika suara malam meredup, tak ada sapa darinya.”

duhai,
bintang yang mana yang jadi petunjuk arahmu tentang kedalaman hatiku?
bolehkah aku meminjamnya untuk menuntun ke dalam
samudra kata dan pikirmu?

“ hanya aku dan dia yang tahu”

benarkah?
tak terukur dalamnya
lautan itu misteri abadi buat angkasa di atas sana

“ kesunyian terasa”

aku hanya mau kotak itu, cintanya buatmu saja…
aku takut telah hilang rasa
di dunia yang tak sama

sehari saja jejakmu tak teraba
aku bertanya-tanya
apa kamu baik-baik saja

sekotak cinta
aku hanya mau cinta itu, kotaknya buatmu saja…

(Bitung, 050410 03:52
Puisi kolaborasi Inrainy-Angkasa)

KORUPSI, PEJABAT, DAN MEGALOMANIA

KORUPSI, PEJABAT, DAN MEGALOMANIA

KORUPSI, PEJABAT, DAN MEGALOMANIA
Oleh: Wardjito Soeharso

Korupsi adalah tematik berita paling panas sepanjang tahun 2009 lalu. Hampir semua media massa menyoroti secara khusus berita-berita tentang korupsi. Dan memang korupsi melibatkan penguasa negara dari level atas sampai yang terbawah. Puncak berita tentang korupsi tahun lalu adalah kasus yang melatar belakangi “cicak lawan buaya”, Bibit-Chandra, dan skandal Bank Century, yang sampai hari-hari terakhir ini masih tetap menjadi topik utama berita media massa.

Korupsi memang tidak lepas dari penguasa. Kekuasaan itu cenderung korup, power tends to corrupt. Kita di Indonesia sudah punya banyak contoh. Presiden korupsi, ada, walau sudah almarhum (Soeharto). Menteri korupsi, banyak yang sudah diadili dan masuk bui. Gubernur korupsi, banyak yang sudah terbukti dan yang masih antri. Bupati/walikota korupsi, menurut survey 40% dari bupati/walikota di Indonesia terindikasi korupsi. Begitu juga dengan para wakil rakyat, penegak hukum, birokrasi, semua seolah berlomba ikut terlibat dengan korupsi.

Sejujurnya, nampaknya sangat sulit mencari pejabat yang tidak korupsi di negeri ini. Gaya hidup sebagian besar mereka memperlihatkan kemewahan yang secara kasat mata tidak sebanding dengan penghasilan resmi mereka. Meskipun demikian, mereka berani tampil secara terbuka. Semua itu karena masyarakat melihat korupsi bukan suatu hal yang aneh lagi. Tata nilai masyarakat tentang makna keberhasilan seseorang telah jauh berubah. Keberhasilan sekarang ini dilihat dari sudut pandang materialistik. Orang disebut sukses apabila punya rumah mewah, mobil mewah, gaya hidup mewah. Sedang orang yang hidup sederhana, apalagi miskin, selalu saja disebut sebagai orang yang gagal.

Bisa dimengerti apabila kemudian orang cenderung berusaha sekuat tenaga untuk dapat memperlihatkan kesuksesan itu dengan segala bentuk kemewahan. Di mana-mana yang namanya pejabat cenderung berusaha tampil mewah. Celakanya, masyarakat sudah salah kaprah. Pejabat yang tampil mewah disebut sebagai pejabat yang sukses. Padahal, masyarakat tahu persis gaji pejabat tidak mungkin dapat dipakai untuk hidup mewah. Apologi yang berlaku kemudian adalah, pejabat dapat hidup mewah karena banyak “pat gulipatnya”. Dan pat gulipat pejabat ini dipercaya masyarakat justru jauh lebih besar dari gaji bulanannya. Dari sini, jelas kiranya, persepsi masyarakat tentang pejabat korupsi. Masyarakat tahu belaka kemewahan itu diperoleh dari perilaku pat gulipat yang nota bene adalah korupsi, namun masyarakat tidak peduli. Karena masyarakat tidak peduli, para pejabat pun tidak lagi punya perasaan risih, tidak takut dicurigai kemewahannya diperoleh dari korupsi. Semakin mewah penampilan seorang pejabat, semakin tinggi wibawanya dan semakin banyak dihormati. Sebaliknya, bila ada pejabat yang tampil seadanya, sederhana, tidak punya apa-apa, malah dilecehkan, diejek sebagai pejabat goblok yang tidak mampu memanfaatkan kesempatan.

Pejabat itu manja.

Persepsi salah kaprah itu tentu tidak muncul begitu saja. Mengapa pejabat selalu ingin tampil serba mewah, sepertinya karena memang pemerintah sendiri cenderung memanjakan pejabatnya. Pejabat banyak diberi fasilitas yang serba mewah untuk menaikkan pamor wibawanya , sehingga secara psikis seorang pejabat memang seperti sengaja dibentuk menjadi sosok yang harus tampil mewah agar berwibawa.

Lihat saja, ruang kerja pejabat selalu luas dengan kelengkapan furniture berselera. Meja kerjanya pun kebanyakan meja biro besar, lebar, dengan kursi duduk empuk bersandaran tinggi. Papan nama dan jabatan dari kayu berukir bertengger di atas meja kerja, yang akan selalu dibaca oleh siapa saja yang menghadap kepadanya. Semua keperluannya dilayani dengan baik oleh stafnya, dari yang sangat pribadi seperti makan minum sampai urusan dinas seperti surat menyurat. Ditambah bila pergi ke mana saja disediakan mobil yang juga mewah. Dapat dibayangkan, suasana psikis seperti apa yang muncul dalam diri para pejabat itu. Semua kemewahan itu begitu enak dan menyenangkan, malah melenakan. Sudah tertanam dalam mindset mereka, jabatan identik dengan kemewahan, dan kemewahan itu sendiri selalu melekat uang bersamanya. Maka, wajar saja bila mereka kemudian saling berlomba untuk meraih jabatan yang lebih tinggi karena mereka sangat paham, semakin tinggi jabatan akan memberikan fasilitas kemewahan semakin tinggi juga.

Megalomania! Itulah sebenarnya yang sedang terjadi pada diri para pejabat di negeri ini. Sebuah sindroma psikologis bagi seseorang yang selalu ingin kelihatan besar, tinggi, berkuasa, mewah, dan sejenisnya. Pokoknya semua harus serba “wah”. Sindroma megalomania ini bahkan terbawa dalam pola kerja. Yang muncul kemudian adalah berbagai program yang berorientasi pada yang serba “ter”, seperti membangun gedung tertinggi, terbesar, termegah; membuat jembatan terpanjang, terkokoh; membangun pasar atau taman rekreasi terlengkap, termodern; memasang videotrone terbanyak, tercanggih; dan seabreg kerja lain yang semuanya cenderung berkonotasi mega (besar). Para pejabat itu dengan bangganya akan memamerkan ke mana saja karya-karya yang serba ter itu.

Sebaliknya, untuk kerja yang tidak memiliki nilai ter atau mega, mereka menjadi seperti malas mengerjakannya. Lihat saja program bantuan langsung tunai (BLT), bantuan beras untuk si miskin (raskin), jaminan kesehatan masyarakat (jamkesmas), penataan pedagang kaki lima (PKL), dan masih banyak kerja populis lainnya, selalu saja terkesan tidak serius, rumit dan berbelit dengan masalah.

Semua itu artinya cuma satu: kerja bernilai mega memberikan kebanggaan, applaus, kepuasan, dan tentu saja fee atau gratifikasi berupa uang; sementara kerja populis mengurusi rakyat adalah kerja bakti, yang tidak memberikan apa-apa kecuali caci maki kalau rakyat tersakiti, atau sekedar simpati dan apresiasi kalau rakyat menyukai.

Kondisi fisik dan psikis lingkungan kerja seperti itu tanpa sadar kemudian terbawa ke luar. Kalau di kantor ruang kerjanya luas, meja kerjanya besar, kursi duduknya tinggi, mobilnya mewah, semua itu sepertinya harus pula diikuti dengan apa yang ada di luar kantornya. Inilah jawaban mengapa para pejabat kemudian sangat haus dengan tanah yang luas, rumah yang besar dan megah, mobil mahal dan mewah, dan berbagai status terhormat dalam berbagai organisasi non-dinas lainnya.

Jadi tidak perlu heran apabila dari hari ke hari semakin banyak saja pejabat yang terbukti melakukan korupsi. Sindroma megalomania menuntut pemenuhan kebutuhan yang akan terus bertambah dan bertambah, tidak pernah tahu sampai di mana batas akhirnya. Dan, memang itulah faktanya: korupsi karena dorongan kebutuhan persentasenya mencapai 85% dari total kasus korupsi yang terjadi (KPK: 2005).

Kalau fakta obyektifnya seperti ini, mestinya pemerintah tidak perlu lagi memanjakan pejabatnya. Bisa saja dibuat aturan, spesifikasi gedung sederhana untuk kantor-kantor pemerintah. Seperti apa ruang kerja, kelengkapan mebelair, dan kursi duduk menteri, gubernur, bupati/walikota, pejabat eselon 1, 2, 3, dan seterusnya. Mobil seperti apa yang mencerminkan kesederhanaan untuk menteri, gubernur, bupati/walikota, pejabat eselon, dan seterusnya. Dengan aturan yang jelas, tidak akan ada lagi perlombaan pembangunan gedung kantor yang megah, persaingan pemberian fasilitas mobil yang serba mewah. Demikian pula, pembangunan berbagai mega proyek berkonotasi ter yang hanya memberikan kebanggaan semu, dapat dicegah dan dihindari.

Dengan tidak memanjakan pejabatnya, pemerintah tentu dapat menghemat anggaran cukup signifikan. Anggaran untuk segala kemewahan yang serba mega dan ter itu tentu akan lebih bermanfaat untuk memberdayakan ekonomi rakyat. Yang lebih penting lagi, pejabat pemerintah jadi tampil lebih sederhana, dekat dengan suasana batin rakyat, jauh dari sindroma megalomania, yang membuat mereka selalu haus dengan yang serba besar, hebat, dan wah.

Kiranya itulah sesungguhnya mimpi seluruh rakyat Indonesia.

Ketika Wanita Menangis,…

Ketika Wanita Menangis,…

Ketika wanita menangis,
itu bukan berarti dia sedang mengeluarkan senjata terampuhnya,
melainkan justru berarti dia sedang mengeluarkan senjata terakhirnya.

Ketika wanita menangis,
itu bukan berarti dia tidak berusaha menahannya,
melainkan karena pertahanannya sudah tak mampu lagi membendung air matanya.

Ketika wanita menangis,
itu bukan karena dia ingin terlihat lemah,
melainkan karena dia sudah tidak sanggup berpura-pura kuat.

mengapa wanita menangis?
karena wanita juga seorang manusia yang memiliki perasaan.
kami tidak pernah menuntut banyak kecuali pengertian.

kadang kami terlihat manja, banyak maunya, atau mungkin di mata kaum pria seperti kalian, kami ini hanyalah makhluk yang menyusahkan. tapi ketahuilah, kami masih tetap berdiri tegar meski kalian telah menghantam kami dengan banyak rasa sakit yang mendera, kami masih tetap seperti orang yang sama ketika kalian berusaha pergi dan menghindar lantas datang kembali membawa asa, meski kami terlihat tidak peduli, meski kami terlihat mengacuhkan, tapi percayalah jauh dilubuk hati kami, kami punya sejuta doa untuk kalian. karena kita ditakdirkan untuk berpasangan, tidak untuk menjalani kesendirian.

kami memang selalu tampak berlebihan dalam mengeksplorasi perasaan, itulah mengapa anak selalu terlahir dari rahim kami kaum wanita. karena Tuhan ciptakan ruang luas di bawah hati kami untuk tempat bernaungnya hasil-hasil cinta kita. karena ya karena lagi-lagi kami ini wanita, dimana Tuhan menakdirkan kami sebagai makluk yang akan selalu terlihat lemah diluar tapi kuat didalamnya. maka hargailah keberadaan kami, sekecil apapun artinya dalam hidup kalian.

Dedicated to Man Who always Make Woman Cry.

dari catatan : ATA NOTONOGORO

Ngidam Indah

Ngidam Indah

Wah… hari ini posting apaan ya?
hmmm…
lagi iseng, lagi pingin nulis sesuatu yang berbau kebidanan.
Apa ya?
kebidanan identik dengan kehamilan.
Kalo bicara soal kehamilan?

Ya, sesuatu yang ‘Rahasia Ilahi”
sesuatu yang misterius dan manusia
hanya bisa mengemukakan sejuta teori
dengan berbagai ilmu yang mereka kembangkan.
Tapi tetap saja semua ketentuannya ada di tangan Tuhan.

Yups! Bicara tentang misteri kehamilan, aku teringat
sesuatu tentang kehamilan yang juga masih merupakan
misteri besar hingga kini.
Yaitu tentang: Ngidam!


Ngidam?
Ya, sebagian besar wanita yang pernah hamil
tentu pernah merasakan pahit manisnya ngidam.
Biasanya antara satu wanita dengan wanita yang lain
‘acara ngidam’nya beda.
Nah, hayooo…. bagaimana para ilmuwan menjelaskan
tentang fenomena ngidam ini?

Ada sih yang bilang itu semua dipengaruhi
oleh sistem hormon wanita yang pada saat hamil
meningkat tajam. Bisa juga karena psikis dan kelelahan
fisik dan mental.
Ya, terus terang pas hamil itu banyak banget yang jadi pikiran
seorang wanita. Mulai dari kesehatan janinnya,
bagaimana proses persalinan nanti,
sampai…. bentuk tubuh yang berubah total!
Hehee…
Ah, tapi tetap saja itu tidak menjelaskan kenapa
wanita hamil itu ngidam.
Weeiii, bahkan ada suaminya yang ngidam lho!

Hmmm, aku tidak mau terlalu banyak teori ah.
Cuma berbagi sedikit, tentang kisahku sendiri :-)

Waktu hamil anak pertama,
sejak awal kehamilan aku sudah menduga
Insya Allah anakku ini cewek deh.
Soalnya sejak hamil aku bawaannya cengeng minta ampun.
Tersinggung sedikit nangis
marah sedikit nangis
mau apa saja, nangis…..

Bukan hanya itu.
Aku yang seumur hidup tidak pernah suka bunga
tiba-tiba jatuh cinta sama Mawar.
Jatuh cintanya gila-gilaan pula
Setiap ke pasar, pulang-pulangnya bukan bawa
bahan buat dimasak, eh malah beli Mawar!
hiaaa, makan sana Mawarnya!
hehe…..
Terus kalau sore kan suka jalan tuh,
atau kalau lagi jalan ke rumah pasien
Aku sama sekali tidak bisa melihat
Bunga Mawar di halaman orang.
Pasti langsung berhenti dan minta sama yang punya.
Untung orang-orang karena kasihan lihat
perutku yang gendut, biasanya langsung ngasih sih…
hehe…

Nah, pada saat itu, halaman rumah dinasku yang
tidak gede-gede amat itu jadi dipenuhi sama
Mawar. Senang nian rasanya.

Dan ketika anakku lahir,
Alhamdullillah, perempuan.
Bayi perempuan yang cantik!
Tapi aku tidak beri nama Mawar.
Karena begitu pulang dari Rumah Sakit sehabis operasi melahirkan
Tiba-tiba semua bunga-bunga itu jadi aneh di mataku.

Sampai-sampai nanya sama suami
“Kok, halaman kita penuh dengan Mawar sih?
In males ah, halamannya buat pelihara Kelinci saja!”

Hihihihiii….

Lha, pas hamil anak kedua lain lagi.
Masih dalam kategori ngidam tadi.
Tapi kali ini tidak ada spesifikasi soal benda.
Cuma perangaiku saja yang ampun-ampun.
Jadi temperamen, gampang marah, tidak berperasaan,
dan garang banget.
Kalau ada sesuatu yang tidak aku sukai, yang bikin jengkel,
atau bikin marah, tersinggung.
Boro-boro nangis, bawaannya aku pingin main karate aja!
Pingin nendang, pingin ninju, pingin ngasih bogem mentah!
tapi syukur masih bisa dikendalikan.
Paling kalau sudah beneran tidak tahan,
aku buruan pulang dan main karate sendiri di rumah.
Hiaaaaaaat!!!!!
Makanya aku yakin banget, Insya Allah anakku laki-laki.
dan Alhamdullillah bener lagi.

Anak cowok!

Lalu kehamilan terakhir.
Kali ini aku sama sekali tak bisa mengira
cewek atau cowok.
Ngidamnya lain lagi.
Aku selalu ‘parah’ tiap subuh dan senja.
Pusing, tidak bisa makan, tidak bisa senyum, tidak bisa membaui
apapun dari dapur.
Sembilan bulan penuh aku tidak menyentuh dapur!
Malas sekali bila berada di rumah,
musuhan sama buku dan laptop.
Tapi kalau lagi keluar atau dinas di puskesmas
aku enjoy-enjoy aja. Malah betah berlama-lama
ikut rapat, pelatihan, dll.
hmmm, jangan-jangan anakku yang ini calon pejabat ya?
hihihiihii……

ALhamdullillah cowok lagi…
Sekarang usianya baru 5 bulan.

So, ya segitu dulu kira-kira ceritaku tentang ngidam.
Ibu-ibu yang lain tentu punya ceritanya sendiri-sendiri..
Dan Bapak-Bapaknya?
Hehee, sabar dan mengertilah saat istri sedang hamil.
Karena jika beban itu dipindahkan ke perutmu,
mungkin kau takkan sanggup mengembannya.
Heheee…..
peace!

Negeri di Awan

Negeri di Awan

Lagi melow nih…… Jadi ingat sama lagu-lagu tersayang selamanya. Lagu favorit? hmmm…. In sih punya banyak.Cos, In sebenernya gak termasuk kepada golongan yang mendewakan salah satu jenis musik, mungkin karena emang gak ngerti kali’ ya? hehe…. Tapi tak disangkal sih, musik itu terkadang jauh lebih syahdu dari seribu puisi. Alunannya acapkali membuat imajinasi berkelana ke berbagai ruang yang sukar ditumpahkan lewat kata-kata. Jeee, singkatnya In penikmat musik juga. Dan soal lagu kesayangan sih diantara seribu irama dalam dan luar negeri, sejauh ini belum ada yang bisa ngegantiin ‘Negeri di Awan’nya Katon Bagaskara. Selain iramanya yang manis abis dan memang membuat perasaan In serasa terbang, syairnya juga terindah diantara yang indah……….

NEGERI DI AWAN


Di bayang wajahmu
Kutemukan kasih dan hidup
Yang lama lelah aku cari
Dimasa lalu

Kau datang padaku
Kau tawarkan hati nan lugu
Selalu mencoba mengerti
Hasrat dalam diri

Kau mainkan untukku
Sebuah lagu tentang negeri di awan
Dimana kedamaian menjadi istananya
Dan kini tengah kaubawa
Aku menuju kesana

Ternyata hatimu
Penuh dengan bahasa kasih
Yang terungkapkan dengan pasti
Dalam suka dan sedih

Berikut lirik lagu-lagu Katon yang In suka banget juga……… Read the rest of this entry

CATATAN ISENG AJA

CATATAN ISENG AJA

Ini catatan iseng aja.
gak ada maksud apa- apa……..
hanya kangen mau cuap2 dikit.

apa ya?

tentang hidup
wiiii…hidup itu memang benar perjalanan.
terkadang walau kita telah menyusun skenario
begini begitu, tetap aja yang terjadi kemudian
sering di luar perkiraan dan bayangan sebelumnya.

tapi percaya gak sih?
hidup kita itu adalh seperti yang kita tuliskan
dalam pemikiran panjang yang tanpa kita sadari ada di benak kita.
tanpa kita ungkap melayang-layang di ingin kita

atau Iin aja yang demikiankah?

hmmmm, ya…….
terus terang apa yang In jalani sekarang adalah
bagian besar dari sebuah pencapaian sederhana yang hidup di pikiran Iin.
Sejak dulu, sejak dulu yang jauh.
Sering ada hal-hal ajaib yang juga ikut menyentuhnya
dan Iin bersyukur atas samua anugrah yang dilimpahkan-Nya
untuk itu.

Masalah?
Waw, tak terhitung dan selalu saja berganti rupa
tak bosan hinggap sana sini di hari-hari Iin.
Tapi itulah hidup, tak pernah terlepas dari masalah.
Kadang lelah, kadang jenuh, putus asa, kecewa.
Tapi juga ada indah, bahagia,
agh, imbanglah…

Setidaknya memang seperti itulah harusnya.

hmpfff………….

btw, ini hari libur yang ‘pagi’
dari pagi,tengah hari, hingga sore ini
tetap aja terlihat pagi.
Hujan, rinai,mendung……

sepi

yup, tumben In merasa sepi, sunyi……
hehe, gak nyambung ya sama cerita di atas
ya gak papalah…namanya juga ngalor ngidul
gak ada teman buat ngobrol, ngobrol sama diri sendiri aja
^_*

So, ya udah, segitu aja dulu…..
I miss U

eh belum, I miss U tuh emang pas banget untuk nutup cerita
bukan untuk apa-apa.
gak ada maksud apa-apa….
beneran
suer!

hehe………

Inrainy…..2010

oya, sebenernya andai waktu bisa diputar ulang, In mau kembali ke masa
dimana semua baru akan dimulai,
agar bisa lebih mengingat, betapa itu hari-hari yang menyenangkan.
walaupun tak akan mungkin merubah apa-apa dengannya.

sayangnya, mesin waktu yang in ciptakan
belum selesai juga
masih kekurangan satu tenaga mekanik
hihii…

ada yang mau daftar?

Perempuan dalam Hujan

Perempuan dalam Hujan

Dua orang perempuan tampak menembus hujan dan pekat malam. Padahal badai tentu tak mampu ditopang hanya dengan sebuah payung usang yang berkali-kali terlipat diterjang angin. Keduanya tak punya pilihan lain! Keduanya harus tetap menembus badai itu!

Sekarang sudah jam dua dini hari, tak ada satupun kendaraan bermotor yang melintas di jalan sepi yang mereka tempuh. Kalaupun ada, tak mungkin juga mereka menumpanginya. Tak ada sepeser uangpun dalam saku baju mereka yang lusuh.

Perempuan pertama. Seseorang yang renta namun terlihat masih perkasa matanya. Di situ keteguhan terasa. Di situ tekad tersimpan. Untuk sebuah perjuangan yang bernama : hidup! Dia harus tetap berjuang jika ingin anak cucunya tak mati kelaparan. Tapi, seberapa tegarnya dia, malam ini di sudut matanya tak henti menetes air mata yang tak beda dengan geraian hujan di seluruh wajahnya.

Ya, dia berjalan sambil menangis. Tadi sebelum berangkat menembus lebatnya hujan, dia sempat mampir di rumah majikannya. Selama ini dia mengabdikan hampir separuh hidupnya dengan bekerja di rumah majikan tersebut. Malam itu, karena ada sesuatu yang mendesak, dia berharap sang majikan sudi kiranya meminjamkan uang walau sedikit. Nanti bisa dipotong dengan gaji bulan depan, demikian dia memohon. Tapi jangankan uang yang dia terima, malah sebuah bentakan dan perkataan yang melukainya, “Sudah kalau kamu minta uang sekarang, lebih baik mulai besok kamu berhenti bekerja saja!”

Seumur hidupnya perempuan ini tidak pernah menangis. Tidak ketika ditinggalkan oleh suaminya ketika anak-anak mereka masih kecil-kecil, tidak oleh segala macam kepahitan yang mendera hidupnya yang miskin. Tapi malam ini dia menangis. Tuhan, ucapnya diantara deras hujan. tidakkah majikanku tidak mempunyai mata dan hati menyaksikan keadaan kami ini?

Perempuan yang berjalan di sebelahnya juga berwajah sembab. Bukan karena menangis, tapi menahan sakit dan nyeri yang seperti tak bisa ditunggu lagi. Menangis. Akh, dia juga tak terlatih untuk itu. Sejak kecil hidup dalam kesusahan dengan sang ibu, tanpa bapak, tanpa saudara, apalagikah yang bisa membuatnya menangis? Suami? Masuk bui hampir setahun yang lalu. Mabuk dan berkelahi dengan sesama pemabuk. Meninggalkannya dengan seorang anak balita yang baru saja menginjak usia satu tahun dan perut yang juga sedang mengandung.

Dan malam ini, hujan ini, seperti tak diindahkan oleh sang jabang bayi untuk menjengukkan wajahnya ke bumi yang susah ini. Perempuan itu telah mati rasa, seperti juga jari-jarinya yang telah kedinginan. Kemanakah sang ibu tercinta akan membawa mereka? Rumah sakit mana yang mau menerima pasien tanpa pakaian bayi sepotong pun? Tanpa baju ganti sehelai pun? Tanpa uang sepeser pun? Tapi dia tak pernah menyangsikan ibunya yang tua itu. Pasti ada arah yang sedang dituju sang bunda dekil, ringkih, namun berhati peri itu.

Akhirnya, setelah perjalanan yang cukup jauh, mereka menepi di sebuah bangunan. Perempuan itu tak tahan lagi. Perempuan itu tak sanggup lagi. Darah telah berceceran di kedua belah pahanya. Ingin dia berteriak, ingin dia bertanya pada Tuhannya, pentingkah hidup untuk terus dijalani? Perlukah memahami ini sebagai cobaan dan cinta kasih? Dia telah mati rasa dan hilang harapan. Wajahnya terkulai di pelukan sang Bunda. Air mata ibunya berbaur dengan hujan menghabisi rasa dalam hati keduanya. Bisu, diam, tak ada lagi pertanyaan.

________________________________________

Kisah di atas tak sekedar karanganku semata, tapi itulah yang dialami pasienku malam tadi. Persalinan dibalut kemiskinan, suami dalam bui, tak ada uang, apalagi perlengkapan bayi. Untuk hidup sehari-hari mereka harus bergantung dari jerih payah ibunya yang telah renta dengan menjadi pembantu rumah tangga. Akh, berapalah yang bisa didapatkan tubuh lemah dan lelah itu. Hanya matanya yang tangguh yang membuatku yakin mereka akan terus bertahan ke depan.

Alhamdullillah Tuhan membawa langkah mereka ke Puskesmas kami kemarin. Ibu itu melahirkan dengan selamat. Teman-teman sesama petugas kesehatan juga bahu-membahu memenuhi kebutuhan mereka walau seadanya. Setidaknya ada susu bayi dan kain penutup tubuh mereka yang dingin.

Aku menangis. Aku menangis mendengar kisah mereka, melihat tubuh basah mereka, melihat cinta ibu tua itu. Ya Allah, betapa aku jauh lebih beruntung dari mereka. Betapa hidup ini terlihat begitu sulit di jejak mereka yang tersaput hujan. Maafkan aku ya Allah, terkadang lena dan menyisakan sekian perdebatan tentang apa yang telah Engkau limpahkan.

Dan Ya Allah, Berikan jenak kebahagiaan di langkah mereka juga. Berikan keringanan di badai tak henti dalam hari mereka pula… Izinkan aku menangis di pagimu yang buta, menangisi karunia yang kau hadirkan di hari-hariku yang tak juga terlalu mudah. Tapi di pagi buta ini, aku belajar lagi. Aku belajar untuk kesekian kali, hidup memang tak akan pernah lurus dan datar, namun demikian, sesulit apapun, tetaplah berjalan,… tetaplah berusaha. Karena pasti ada jawabann dari semuanya…. Dia tak akan pergi kemana, selalu mengiringi langkah kita.

Puisi Sutardji Calzoum Bachri

Puisi Sutardji Calzoum Bachri

Puisi Sutardji Calzoum Bachri

SATU

kuterjemahkan tubuhku ke dalam tubuhmu
ke dalam rambutmu kuterjemahkan rambutku
jika tanganmu tak bisa bilang tanganku
kuterjemahkan tanganku ke dalam tanganmu
jika lidahmu tak bisa mengucap lidahku
kuterjemahkan lidahku ke dalam lidahmu
aku terjemahkan jemariku ke dalam jemarimu
jika jari jemarimu tak bisa memetikku
ke dalam darahmu kuterjemahkan darahku
kalau darahmu tak bisa mengucap darahku
jika ususmu belum bisa mencerna ususku
kuterjemahkan ususku ke dalam ususmu
kalau kelaminmu belum bilang kelaminku
aku terjemahkan kelaminku ke dalam kelaminmu

daging kita satu arwah kita satu
walau masing jauh
yang tertusuk padamu berdarah padaku

PENERBITAN ANTOLOGI PUISI DAN CERPEN

PENERBITAN ANTOLOGI PUISI DAN CERPEN

PENERBITAN ANTOLOGI PUISI DAN CERPEN

Oleh: Administrator
Halo Penulismuda,

Ada usulan lagi: kita menerbitkan antologi puisi dan cerpen dengan biaya sendiri, kita pasarkan sendiri. Penulis puisi, selain bisa menulis puisi juga harus bisa menjual puisi. Nah, untuk itu diperlukan komitmen bersama agar mimpi itu segera terwujud. Pengelola web akan mengkoordinasikan proyek ini, dan sesuai kesepakatan proyek itu dilaksanakan dengan ketentuan sbb:

1. Untuk sementara hanya akan melibatkan 10 penulis puisi dan 10 penulis cerpen.
2. Setiap penulis puisi mengirimkan 5 puisi dan setiap penulis cerpen mengirimkan 2 puisi. 3. Jadi karya yang masuk antologi nantinya adalah 50 puisi dan 20 cerpen.
4. Silakan karyanya dikirimkan melalui akun facebook pengelola.

Bagi penulismuda yang berminat, silakan segera daftar melalui akun facebook pengelola: Wardjito Soeharso.

Salam Penulismuda!

Sumber: http://penulismuda.com/

O M G

O M G

Beberapa hari yang lalu, di pagi hari,  seorang ibu hamil datang memeriksakan kandungannya ke tempat aku. Seperti biasa aku nanya dulu tentang data-data dasar dan riwayat kehamilannya.

Iin : ” Ibu, ini kehamilan keberapa?”
Ibu: ” Pertama Ses…”

Ya okelah, tanya sana sini, cek sana sini, periksa sana sini, aman everything is oke. Setelah ngobrol-ngobrol sebentar Ibu hamil inipun pulanglah.

Nah sorenya Ibu itu datang lagi. In kan heran, kenapa nih Ibu ya? Perasaan baru tadi deh dia periksa. Kok datang lagi ya? Apa ada yang ketinggalan? Atau apa ya? kok jadi dag dig dug nih, jangan-jangan ada apa-apa lagi.

Iin: ” Ibu kenapa? Ada yang ketinggalan? atau…”
Ibu: ” Aduh Ses… maaf, tadi saya lupa..”
Iin: ” Lupa apa?”
Ibu: ” Tadi Ses kan nanya, ini kehamilan keberapa? saya bilang kehamilan pertama.”
Iin: ” Iya, trus kenapa…?”
Ibu: ” Saya lupa Ses,…”
Iin : “Lupa apanya?”
Ibu: ” Ini sudah hamil kedua, anak pertama saya sudah berumur delapan tahun.
Saya sampai lupa, soalnya dia bukan saya yang ngurusin tapi neneknya,
jadi lupa deh Ses…hehe.. maaf ya Ses, nyampe rumah tadi baru ingat,
makanya balik lagi…”

Iin:……………..???????????? O M G……………………
sama anak sendiri lupa,…towewwww…………….

Iin: (sambil meringis-ringis….)
“Iya deh Bu, saya ubah datanya, lain kali jangan lupa lagi ya Bu
sama anaknya…………….”

Ibu: ( sambil senyum-senyum seribu makna)
“heheee… iya Sesss…………..”

LORONG

LORONG

LORONG
: Jingga di situ

Puisi Iin Syah

aku berlutut
mengerang
memohon
pulanglah tuan

hatiku kosong

pada setiap siang pulang
pada malam yang menjelang

mengingatmu
merindumu
mewangi angan ke arahmu
jauh

apa ada di sana?

ungkapku sampai pada ujung penantian panjang
dan tersisa tempat di hati tuan
buatku yang cuma kenangan

jingga dan merana

sore tuan,
temui aku sebelum malam
di ujung lorong penantian
seumur hidup yang lalu aku telah menantimu
jangan perpanjang rinduku
untuk seumur hidup yang akan datang

temui aku di ujung lorong ini
jingga di senyummu
penerus nyawaku

kau bunuh aku
bila kau tak di situ
: LORONG
jingga di situ

Mei 2010

(Pengantar Ruang Jingga Kita….)

Pada Siapa?

Pada Siapa?

Pada Siapa?

Puisi Iin Syah

Bertanya pada siapa, dimana senyummu kucari?

dengan langkah-langkah kecil
hidupmu
hidupku
teka teki terpijar kelu

dengan tepukan di pundak
tawamu
tawaku
dongeng kita yang diputus temu
rindu aku

Bertanya pada siapa, kemana cahayamu kususul?

jauh
semu
dan
sangat jauh
sangat semu

langkahmu
langkahku
tatapmu
tatapku
terkurung lubang hitam
dengan kecepatan cahaya
melepasmu pada dimensi lain
melepasku pada semesta tak sama

hingga,
aku harus berpaling kemana…
bertanya pada siapa…
kamu dimana?

(oh please don’t make me so sad…*)

Bitung
19 Mei 2010
08:29

*Letto

KILAU

KILAU

Puisi Iin Syah

i
mataku

teman, subuh ini aku terbangun dengan sebuah senyum di ujung bibirku
entah kenapa senyum itu ada di situ
gerangan apakah yang terjadi hingga aku tertidur dengan hiasan itu
dan terjaga masih mengenakannya…

hingga kemudian menatap cermin yang berdiri acuh di sampingku
aku terperangah
tak tahu harus berkata apa?

kilau…

benarkah?
setelah ratusan purnama aku kehilangannya
setelah pasrah kutitip dia pada satu bintang di atas sana
setelah kehabisan jedah aku mengharapnya

tiba-tiba aku membacanya subuh ini
dengan hangat
dengan cantik
dengan kerinduan tak terperi
hadir kembali dalam pantulan mataku di cermin ini

kilau…
benarkah?
aku bergidik.

Tuhan, gerangan kemanakah akan kusembunyikan kilau ini
dengan tampak nyatanya tak berani aku membuka mata dan menatap dunia
dengan pandang sayang tak sampai hati aku kehilangannya
dengan cahaya sempurna tak tahu aku harus menjawab apa pada mereka
yang telah tahu aku pernah kehilangan dia…

Tuhan, permainan kata apa yang bisa kususun untuk mendustakannya
mengingkari dia hadir tak bercela di mataku yang hampa dan tanpa rasa
beratus hari sebelumnya
menipu diri dan semua orang yang pasti kan lantas mengenalinya
mencari alasan mengosongkan imaji dan hati untuk menganggapnya tak ada

kilau…
subuh ini,
benarkah?
aku bergidik

ngeri menginsyafi bahwa kilau itu hanya akan ada sedetik ini lalu pergi lagi
menterjemah bahasa waktu yang pasti kan merampasnya kembali
membaca satu persatu dari seribu alasan yang akan dengan sangat mudahnya
membuatku menangis lagi

kilau…

ii
stiletto

ya, kilau yang sama di ujung stiletto yang kusimpan rapi
dalam gulungan kisah catatanmu yang sunyi

pagi ini menatapku di ujungnya yang berkilau
tanganku bergetar
hatiku pias dan sadar

ini sudah saatnya

waktu yang dikisahkan takdir
bahwa dada kiriku adalah persemayamannya yang terakhir
ku lihat engkau menatapku bisu di pintu itu
masih sama dengan tatapmu yang dulu

aku mengangguk
ini janjiku
stiletto itu kubawa ke sana
sakit
perih
tak terperi

perlahan aku pergi
tak perlu khawatir teman
tak akan ada ceceran darah
ceceran air mata
ini rahasia kita

tenang saja
tak akan ada yang mengira

subuh ini
aku telah mati

di tanganmu…

Bitung
Mei 2010

tahukah, untuk kilau subuh ini:
kumaafkan dengan ikhlas semua dendam terperih
semua sakit tersedih
yang pernah dibawa takdir
untuk hariku yang sepi….
thanks for ‘swans’
belum pernah ada yang memberiku sesuatu semanis itu sebelumnya..

Konsep Pelayanan Kesehatan Reproduksi Terpadu Resposive Gender

Konsep Pelayanan Kesehatan Reproduksi Terpadu Resposive Gender

Konsep Pelayanan Kesehatan Reproduksi Terpadu Resposive Gender

Wah, baca judulnya kok berat banget kayaknya ya? Bikin kening berkerut kira-kira nggak ya? Hmmm, padahal judul di atas tersebut sebenarnya sangat akrab dengan kehidupan kita sehari-hari.

Akh, Iin sok tahu deh, padahal baru dengar juga, cos kemarin baru aja ikut pertemuan yang membahas soal itu. Pembicaranya langsung dari Kementerian Kesehatan. Menarik, dengan topik hangat yang memang membuat mata jadi terbuka lebar (hohoo… padahal biasanya kalo ada pertemuan Iin mah asyik nyorat-nyoret bikin puisi). Tapi untuk yang ini sama sekali tidak bikin puisi, ada sih sesekali lihat langit di luar, karena sedang sebel sama seseorang bernama Langit!

Wee, apa hubungannya sama responsive Gender? Hehe, gak kali’ pengantar doang, biar rekan-rekan yang mampir di sini mau nerusin baca postingan ini. Oya, ternyata kita tidak boleh terlalu berburuk sangka lho sama pemerintah. Sehubungan dengan tingginya angka KDRT pada anak dan perempuan, kekerasan seksual, kenakalan remaja, dll yang menyangkut itu semua. Nah, ini buktinya. Ternyata program pemerintah itu juga sangat mempedulikan hal-hal demikian.

Ups, sedikit ngulik nih, tentang pengertian kesehatan reproduksi (kespro), apaan tuh kespro? Kalo ngutip pengertian dari buku sih, katanya kespro itu: Keadaan sejahtera fisik, mental, dan sosial secara utuh, yang tidak semata-mata bebas dari penyakit atau kecacatan, dalam semua hal yang berkaitan dengan sistem reproduksi, serta fungsi dan prosesnya.” Panjang ya? Ribet gak? kalo ribet, pake pengertian Iin aja. Kalo menurut Iin sih, biar gak bingung, kespro itu ya keadaan dimana fungsi alat reproduksi seseorang sehat walafiat. Hihiii… lebih gampang kan ngingatnya. But buat rekan-rekan yang lagi kuliah dan pas ujian ditanya, apa pengertian kespro jawabnya jangan : ” Menurut Iinsyah, kespro adalah……………..sumber: http://iinsyah.wordpress.com , xixixixiiiiiiiiii…..dah diingetin lho!

Oya, pengertian-pengertiannya ntar dulu. Kemarin pas pelatihan selain temanya asyik, In gak sempat bikin puisi juga karena lupa bawa pena en kertas! Heheee… Ehm, ada cerita lucu juga dikit. Ceritanya Iin kan gak gaul-gaul amat orangnya. Nah, karena ngebet pingin nyoret-nyoret, Iin berusaha minjem alat tulis sama peserta yang duduk di samping kanan Iin (samping kiri mah jendela, biasa… liatin Langit mulu! wee, Langit beneran nih….) Tapi In gak tau namanya. Dan peserta pelatihannya kan dokter sama bidan, jadi bingung juga manggil apa. Tapi karena kebelet nulis In sok kenal aja trus say: ” Dok, boleh pinjem pena?” dianya jawab: ” wah nggak ada, pensil mau?”  Iin: (kok pensil sih, kayak anak SD aja, hihihiii…) oh gak pa-pa, pensil aja Dok.  Dia nyerahin pensil deh. Iin ngelunjak dan bilang lagi : ” Boleh minta kertasnya juga selembar Dok?” Dengan baik hatinya dia nyerahin selembar kertas. Dimana lucunya tuh?

Nah, lucunya pas acara perkenalan satu-satu. Si Dokter cantik di samping Iin berdiri trus memperkenalkan diri: ” Nama saya….. Saya sebagai bidan pengelola Kesehatan Ibu dan Anak di Puskesmas….”

Gubrak!

Hiks, dokter tempat minjem pensilku ternyata bidan juga like Iin…… Lucu gak sih?? hehehe….

Ah, kembali ke soal kespro tadi. Nah, sekarang Iin cerita sedikit soal Gender. Pengertiannya adalah:”Perbedaan peran dan tanggung jawab sosial bagi perempuan dan laki-laki yang dibentuk oleh budaya.” kalo pengertian yang ini mah simpel ya, gak perlu Iin bikin pengertian sendiri.

So, bicara soal gender, kita sekarang masuk pada kesetaraan gender, yang katanya adalah: ” Keadaan tanpa diskriminasi, akibat perbedaan jenis kelamin dalam memperoleh kesempatan, pembagian sumber-sumber, dan hasil pembangunan, serta akses terhadap pelayanan.

Nah, bicara soal pengertian aja udah kepanjangan ya, gak papa, sekarang In lanjut terhadap isu Gender dalam kesehatan Repsoduksi:

I. Kesehatan Ibu dan Bayi Baru Lahir

* Ketidakmampuan perempuan dalam mengambil keputusan dalam kaitannya dengan kesehatan dirinya, misalnya dalam menentukan kapan hamil, dimana akan melahirkan, dsb. Hal ini berhubungan dengan kedudukan perempuan yang lemah di keluarga dan masyarakat.

(-So, jika anda perempuan. Jadilah perempuan yang kuat, belajar mengambil keputusan untuk diri sendiri, terutama pada saat anda harus memutuskan untuk keselamatan nyawa anda dan anak-anak anda. In sudah sering melihat, seorang ibu yang harus kritis dalam menghadapi persalinan gara-gara harus menunggu keputusan dari suami.

- Jika anda dalam keadaan hamil, akses informasi sebanyak-banyaknya dari berbagai sumber. Jika anda memeriksakan kehamilan dengan petugas kesehatan, dan merasa kurang sreg dengan hasil pemeriksaan, coba datang ke tempat pemeriksaan yang lain agar mendapatkan perbandingan hasil pemeriksaan anda.

- OMG, please deh… jangan sekali-kali datang ke dukun untuk mengurut kandungan anda agar posisinya oke. Bahaya atuh.)

* Tuntutan untuk tetap bekerja bagi ibu meskipun sedang dalam keadaan hamil.

*dll

II. Keluarga Berencana

* Kesertaan ber-KB Dari data SDKI tentang persebtase kesertaan ber-KB, diketahui bahwa 98% akseptor KB adalah perempuan. Ini berarti bahwa dalam program KB perempuan selalu menjadi obyek/target sasaran.

* Perempuan tidak mempunyai kekuatan untuk memutuskan metode kontrasepsi yang diinginkan, antara lain karena ketergantungan kepada keputusan suami, informasi yang kurang lengkap dari petugas kesehatan, penyediaan alat/ obat kontrasepsi yang tidak memadai di tempat pelayanan.

* Pengambilan keputusan: Partisipasi kaum laki-laki dalam program KB sangat kecil dan kurang, namun kontrol terhadap perempuan dalam hal memutuskan untuk ber-KB sangatlah dominan.

III. Kesehatan Reproduksi Remaja

* Ketidakadilan dalam menanggung sebuah akibat dari pergaulan bebas/ seks bebas. Seringkali bila seorang anak perempuan menjadi korban apabila terjadi kehamilan. Antara lain diberhentikan dari sekolah dan menanggung beban psikologis akibat kontrol sosial, sedang si anak lelaki seakan terbebas dari segala permasalahan.

*Ketidakadilan dalam aspek hukum: dalam tindakan aborsi ilegal, yang diancam oleh sanksi dan hukuman adalah perempuan yang menginginkan tindakan aborsi tersebut, sedangkan laki-laki yang mengakibatkan kehamilan tersebut tidak tersentuh hukum (padahal, memprihatinkan… Aborsi merupakan salah satu penyumbang terbanyak terhadap tingginya angka kematian ibu di Indonesia, oh so sad… )

IV Penyakit Menular Seksual

* Perempuan selalu dijadikan obyek intervensi dalam program pemberantasan PMS, walaupun kaum laki-laki, sebagai konsumen, justru memberi kontribusi yang cukup besar dalam permasalahan tersebut.

* Setiap upaya mengurangi praktek prostitusi, kaum perempuan sebagai penjaja seks komersial selalu menjadi obyek dan tudingan sumber permasalahan, sementara kaum laki-laki yang mungkin menjadi sumber penularan tidak pernah diintervensi dan dikoreksi.

Waaahhhh……… ternyata amat sangat banyak permasalahan gender yang perlu diselesaikan. Di atas itu baru beberapa diantara banyak contoh lainnya. Sepertinya pemerintah dengan dukungan kita semua tentunya, harus terus bekerja keras.

Dan kembali soal bagaimana pelayanan kesehatan yang peka terhadap Gender? Hmmm, bersambung ya.. sudah kepanjangan. Ntar malah bosen, hehe….  Sementara tentang itu dulu ya, Kapan-kapan dilanjuti deh,… OK?! Thanks sudah baca, dan semoga besar manfaatnya cos lumayan capek juga nyalin beberapa part dari buku : “Yang Perlu Diketahui Petugas Kesehatan tentang : KESEHATAN REPRODUKSI, Depkes RI Direktorat Jenderal Bina Kesehatan Masyarakat Direktorat Bina Kesehatan Ibu JAKARTA 2008″

Salam peduli gender….

Negeri Para Peri

Negeri Para Peri

Negeri Para Peri

Puisi Iin Syah

Ingin terlahir kembali, tetap sebagai diri sendiri.
Tapi bersayap
cantik
bisa terbang kesana sini

Membagi kasih
di setiap sedih hati hati yang perih
di setiap wajah wajah sepi
di sudut rindu rindu yang pergi

Ingin menjadi peri
bisa mencintai setulus hati
pada semua jiwa yang lirih
pada seluruh batin yang sendiri
pada taman taman yang sunyi

Ingin terlahir kembali
di dunia para peri
memintal cahaya dan embun pagi
membaginya pada setiap raga yang kucintai
tanpa ada rasa bersalah
tanpa ada merah di wajah

Ingin menjadi peri
hari ini dan nanti
tapi kenapa di sini sepi sekali
dunia ini rindu sendiri
tak ada siapa yang bisa kuraih

dunia para peri
sendiri di sini
mengurai mimpi sendiri
tentang mereka yang kusayangi sepenuh hati
tentang cinta dongeng pagi

ingin terlahir jadi peri
peri
ya,
peri….

negeri peri
hari ini,
09:44
Mei 2010

ENTAHLAH

ENTAHLAH

Puisi Iin Syah

Mulai lagi menuliskan kerusuhan
Tentang bagaimana sebenarnya menjadi
baik
jahat
atau bukan sebagai apapun

Setelah sekian perjalanan,
putih, buram, silau,
parah dan bahan tertawaan

Sebenarnya tak ada yang perlu lagi dipertanyakan.

Telah cukup bukti untuk sekedar menentukan sikap
Ya… atau tidak
di sini atau pergi
penting atau tak berarti
ada atau bukan siapa-siapa

Tapi entahlah

Tanya
itu masih saja menghantui
masih saja mengikuti kemana pergi
di langit
di awan
dimanapun pandang terbentang

Aku sajakah yang demikian?

Hmmm….
Bahkan telah kini,
aku kehilangan alasan untuk meraih yang tak lagi menarik untuk kucoba capai

Mungkin tak ada waktu lagi….
Mungkin tak ada alasan lagi….
Mungkin tak ada apa-apa lagi yang tersisa….

24 Mei 2010-05-24
20:08

Hallo Dunia………

Hallo Dunia………

Hallo dunia, apa khabarnya malam ini? Sedang duduk santai menikmati televisikah? Membaca berita atau menikmati demo di setiap tayangan? Hmm, sepertinya itu sudah makanan sehari-hari.

Seperti rutinitas para petani yang subuh-subuh telah berangkat ke sawah. Dengan bekal sebotol kopi dalam wadah botol air minum isi ulang. Dan sebungkus nasi dingin sisa tadi malam. Atau keseharian pedagang makanan yang telah berlomba dengan dingin pekat memburu belanjaan di pasar subuh. Terlibat perseteruan dengan kayu bakar, minyak tanah, dan harga gas yang semakin melambung tinggi.

Akh, hidup memang tak pernah mudah. Mereka yang seharian menghabiskan waktu di kantor mengeluh karena jam biologisnya yang habis terperangkap dalam macet atau tertekan dengan perangai si Bos yang tidak fair, penaik darah, atau bonus yang tak merata. Pegawai Negeri juga mengeluh gaji yang naik merangkak pelan tak pernah seimbang dengan kebutuhan hidup, biaya pendidikan anak, dan segala tetek bengek pernak-pernik kehidupan.

Tapi itulah kehidupan. Harus terus kita jalani dengan tetap menengok ke bawah, agar kita selalu bersyukur dengan apa yang telah kita miliki. Penting juga mencongak ke atas sesekali waktu. Agar kita bisa mengoreksi dan menggali potensi yang kita miliki dan terus berusaha semampu kita. Jangan lupa berdoa serta say hello kiri kanan. Sehingga kita tahu, sadar, dan merasa kita tak sendirian. Semua orang punya persoalan dan problematika masing-masing. Dengan berbagi kita akan semakin kuat dan menjadi semakin dewasa dari hari ke hari. Percayalah, itu sama sekali tak mudah. Tapi percaya juga, kita bisa melewatinya. So, menangislah jika susah. Tapi hapuslah air mata itu bila telah merasa sedikit lega.

Hmmm, jadi… Apa khabarnya semua malam ini? Semoga selalu sehat, bersyukur, dan indah bersama keluarga…, amin.

KANIA

KANIA

Kania,

Semua adalah jalan
Semua adalah perjumpaan di sudut-sudut keheningan
di tiap malam terlarut yang kubujuk untuk menemanimu

Kania,

Kita adalah perjumpaan
lagi tentang semua simpang ruang sedih
yang pernah kau tumpahkan
di cangkir-cangkir rapuh
yang meretak dalam pilumu

andai engkau tak di sini:
“aku akan tetap menunggumu”
begitu aku.

Kania,

cinta ini bersulam dalam senyum di wajahmu
yang mencairkan bumi dalam genggam sela canda kita
tak lagu
tak puisi
tak ada bisa matikan kibas lamamu
hanya menunggu cerita usang yang bahkan
tak mengubah apa-apa

Kania,

demikian sapamu padaku selalu
bahkan telah berulang kali kukata…

“Aku bukan Kania”


*whatever,…
27/05-2010
02:18

SAHABAT buat IIN

SAHABAT buat IIN

SAHABAT buat IIN

Hallo, nama saya Iin 8-) . Hehe… telat ya ngenalin diri sekarang, setelah umur blog ini udah memasuki usia empat bulan. Wee, kecepetan kali’ mana ada bayi empat bulan ngenalin diri sendiri xixixiiii……..

Akh, whatever lah…
Bingung mau posting apa malam ini. About joerney of my life gak mungkin buanget, lagi melow soalnya. Ntar mewek en lebay abizzz Iinnya, hiks!
Mau cerita yang lucu-lucu lebih gak mungkin lagi, walau kepingin amat, hiaaaa…..hohohoo………masa’ gak bisa? bisa dong…

hiks

hihihi, apaan nih iin….  :wink:

uhuk uhuk… lagi ingat sama sahabat-sahabat yang gak berapa orang. Sapa-sapa ya? one tu tri por faiv sik sepen eik nain… hiihiii, ngitung githu loh… hiks, gak banyak ternyata.

btw, pren-prenku itu tau gak ya, arti mereka buat hidupku yang indah ini (maksaaa…).
malem ini sambil mencoba berdamai dengan siaran tivi yang udah in pensiun dinikan hampir dua bulan, coba iin urai di sini deh… (ulat kali’ ngurai.. qiqiqqiii..)

SAHABAT buat IIN,

adalah kerupuk!  :roll:
hiaaa….
iyah!! Sahabat itu kerupuk banget deh. Ribut, rame, kriyuk, gak ada juga gak papa, tapi kalo ada seru banget….. Kalo lagi sepi, sedih, sumpah… cari kerupuk en memamah hihihii… dijamin bete bete ah nya ngurang seribu derajat. Kalo kurang puas ngilangin kerupuk eh ngilangin bete nya dengan makan kerupuk,… ya udah kerupuknya dibeli sekarung, digantung pake tali, panggil anak-anak se RT, trus bikin lomba makan kerupuk, hihihii…. apa masih bisa sedih tuh ya kalo dah rame gitu? kalo masih berarti udah waktunya nyari alamat praktek psikater di buku telpon, heheheheeee……….  :mrgreen:

SAHABAT buat IIN,
adalah Pohon Gersen depan rumah  :razz:
napa githu?
Iyaah, dulu… Iin punya sebatang pohon Gersen depan rumah. Tempat berteduh, tempat bergayut, tempat tertawa, tempat menangis, tempat menyimpan rahasia…. Ketika suatu saat pohon itu ditebang, jadinya panas… jadinya kesepian. Tapi dia tumbuh lagi dan lagi… dan Iin teduh lagi.
Lalu ketika dia ditinggalkan, dia tetap saja membayangi, mengiringi… Walau Iin ketemu pohon-pohon yang lain, tetap saja dia tak terlupakan. Dan ketika Iin kembali dan dia benar-benar tak ada lagi, Iin tahu dia akan selamanya di hati Iin. Dengan semua kenangan tentangnya yang tak terlupakan. Dan bila kini, di depan rumah Iin tanam Pohon Gersen lagi. Itu karena…. Iin ingin anak-anak Iin juga punya kenangan seteduh pohon gersen Iin yang dulu… Karena, sahabat buat Iin adalah, pohon gersen depan rumah, sahabat buat Iin adalah kenangan tak terlupakan, kenangan tak tergantikan.

SAHABAT buat IIN
adalah…

Antibiotik!!!
What? heheee… iya antibiotik yang obat itu lho.
Rasanya pahit, tapi menyembuhkan. Tak boleh sembarang diminum, karena ada aturannya. Ada dosis yang harus tepat, ada waktu minum yang gak boleh dilanggar!
Ups…
yeah…
antibiotik itu kalo kurang dosisnya gak bikin sembuh, kalo kelebihan juga bisa bahaya.
Nah, dalam persahabatan itu *sebagaimanapun* mengalir apa adanya, ada saat-saat Iin harus bisa ’ngeh’ kalo In terlalu cuek, kalo Iin terlalu care…. Agak ribet sih… agak bikin milooow ciiiaaa…. tapi tetap aja ada batasan-batasan yang susah amir buat dijaga.
Apalagi kalo sahabat Iin itu cowok, uhuk uhuk…  :oops:
Kalo dulu sebelum merid sih no problem kali yee… tapi sekarang kan gak mungkin
say luv u, miss u, xixixixiiiiiiiii……….
Yeah, sahabat itu emang antibiotik
terkadang keberadaannya, ketiadaannya, kata-katanya, bikin pahit aduh…, bikin sakit ampun…. tapi dalam dosis yang pas, malah bikin adem, bikin tenang, bikin Iin memiliki sahabat yang mengerti, yang peduli…
but kalo dosisnya kurang, bikin jiwa kanibal terbit ke permukaan…. jadi pingin nyakar……. grrrrrr…..  :twisted:
kalo kelebihan dosisnya mah bikin jiwa superlabil muncul, keinginan buat bunuh diri terasah pelan-pelan, hiaaaa…… hahahahaha…. jauh-jauhin segala jenis pisau, tali, obat nyamuk,….
btw, kalo beneran niat bunuh diri sebenernya begitu banyak potensi sekitar kita yang bisa dimanfaatin ternyata hehehe… apakah ini pertanda lingkungan kita memang tak aman? Atau tenaga psikiatri yang masih jauh dari jangkauan? Pertanyaan nih, kenapa sampai detik ini gak ada satu orang pun psikiater yang ditransfer dan ditempatkan di puskesmas-puskesmas? Ayooo buat pemerintah nih…. jangankan pasien, petugas puskesmas (Iin) nya aja butuh terapi kayaknya….. hohooo… iya, penting nih….kapan-kapan kalo ada pertemuan lagi dengan orang pusat Iin mau usul deh…
wiiii, kok nyimpang temanya nih?

terakhir
SAHABAT buat IIN adalah…

LANGIT

iyaaahhhh…………
sahabat-sahabat Iin itu sekarang banyak yang gak bisa Iin lihat, gak bisa Iin temui, Iin gak tahu keadaannya……. :cry:    mereka banyak yang jauh, entah sedang ngapain sekarang, entah sedang bahagia, sedang ada masalah, sedang senang, sedang sedih. In gak tahu…
Tapi buat Iin, sahabat yang sesungguhnya itu adalah Langit….
dimanapun mereka berada, mereka adalah langit, yang walau kadang kelam, tertutup awan, berurai hujan, tetap saja Iin ingat mereka. Tetap saja Iin peduli dengan mereka. Tetap Iin ingin mereka selalu bahagia, tetap saja Iin menantikan ada saat Iin bisa bertemu mereka. Biarpun jauh… tetap saja Iin merindukan saat bisa tertawa menangis bersama.
Sahabat buat Iin itu adalah Langit, semoga juga, dimanapun, bagaimanapun keadaan mereka, mereka akan ingat, ada seorang sahabat, seorang Iin yang ingin mereka selalu baik-baik saja….

(Mmmm,
sejujurnya Iin belum pernah menjadi sahabat yang baik
buat mereka…………
walaupun try to hard….
tetap saja,
Iin merasa tak pernah cukup berbuat sesuatu yang berarti…
merasa juga,…
tak pernah cukup berarti….)

Mengapa langit berwarna biru?

Mengapa langit berwarna biru?

Mengapa langit berwarna biru?

Atmosfir bumi mengandung molekul gas kecil dan partikel (butiran) debu. Sinar matahari yang memasuki atmosfir tersebut bertemu dengan molekul gas dan partikel debu tadi. Warna sinar yang memiliki gelombang sinar lebih panjang seperti merah dan kuning, dapat melewati dan menembus molekul gas dan debu tadi. Tetapi warna biru yang memiliki gelombang sinar lebih pendek dipantulkan kembali ke atas atmosfir. Itulah mengapa langit terlihat berwarna biru. Prinsip yang sama berlaku juga dengan air di laut atau danau yang terlihat berwarna biru.

Sumber :

http://www.ceritakecil.com/ilmu-pengetahuan-dasar/artikel/Mengapa-langit-berwarna-biru-1

SMS Inspiratif Tentang Persahabatan

SMS Inspiratif Tentang Persahabatan

Beberapa waktu yang lalu, aku menerima sms di kartu Fren yang dipakai buat modem, begini bunyi sms tersebut :

“Pelanggan Yth. Terima Kasih sudah bergabung dlm Fren Sobat.
Anda akan mendapatkan GRATIS 1 bulan SMS inspirasi kalimat Bijak dr kami,2 kali dlm 1 Minggu.Hub:888″

Hmmm, ternyata bunyi sms inspirasi tersebut bagus-bagus. So, aku share di sini ya…
Semoga bermanfaat.

Bersahabat dgn diri sendiri adalah yg terpenting,
tanpanya orang tak bisa menjalin persahabatan dgn orang lain.

(Eleanor Roosevelt – Tokoh Politik AS)

Sahabatmu adalah
orang yang benar-benar mengenal segala baik dan buruk tentangmu,
namun masih tetap menyayangimu.

(Elbert Hubbard – Seniman AS).

Tiap sahabat beri sebuah dunia yg berbeda bagi kita,
dunia yg mungkin tak pernah kita miliki sebelum kedatangannya.

(Anais Nin – Penulis Asal Prancis)

Persahabatan sejati layaknya sebuah kesehatan,
nilai dan manfaatnya tidak mudah dipahami
sampai kita kehilangannya.

Persahabatan itu
layaknya mutiara hidup yang pastinya
tak akan pernah terkikis asinnya air laut
sampai kapanpun jua.

Seorang teman
akan mendengarkan
apa yang akan Anda katakan,
namun teman sejati atau sahabat
bisa mendengar
apa yang mungkin tak Anda katakan.

Sahabat sejati bagaikan berlian,
sangat bernilai dan sulit ditemukan,
sedangkan teman yang buruk bagaikan daun kering,
bisa ditemukan di mana saja.

Saat berbicara dengan orang lain,
sahabatmu akan lebih suka membicarakan kebaikanmu,
dan bukan keburukanmu.

Sahabatmu akan selalu memberikan yang terbaik untukmu
meski mungkin sekarang dia tidak sedang di sampingmu

Bu Bidan dan Kader Mia

Bu Bidan dan Kader Mia

Lagi ingat sama sesuatu yang gimanaaa githu…

cerita ini, ceritanya teman iin yang juga seorang bidan.
Dimana-mana tuh, bidan kan kalo kerja di desa selalu dibantuin
sama kader-kader. Keberadaan kader ini penting banget.
Mengingat mereka adalah bagian dari masyarakat,
dan sumber informasi yang sangat akurat. Ibaratnya bidan-kader
adalah simbiosis mutualisme deh.

Tapi kader teman iin ini agak lain dari yang lain.
Mungkin karena udah saking akrabnya, atau gimana.
Kader Mia ( bukan nama sebenarnya ), kalo mampir ke rumah bu bidan
ngapa-ngapain gak bilang-bilang dulu ke bidannya.
Bidan ini juga gak pernah keberatan sih. Mau makan, minum,
masak, tidur, juga gak apa-apa.

Suatu hari pas lagi ada posyandu, bidan sibuk melayani
di depan, maklum rame dengan bayi, balita, ibu hamil.
Mana si bidan juga punya bayi, jadi agak repot emang.

Nah, lagi sibuk gitu kader Mia tiba-tiba merasa haus dan langsung
ke dapur. Buka kulkas dan melihat di freezer ada bungkusan kecil
seperti es mambo gitu. Tanpa nanya-nanya kader Mia langsung
ngemot tuh es… sambil ngemot gitu, kader Mia keluar dan langsung
komen depan bu bidan, peserta posyandu, dan kader-kader lain.

Kader Mia : ” Bu bidan gimana nih, bikin es gak dibagi-bagi. Tapi gak
usah dibagi deh. Es nya gak enak. Gak manis, gak berasa.”

Bu Bidan: ” Es ? Es apa? perasaan gak bikin es deh…”

Kader Mia: “Ah, gak usah bohong, ini…” (sambil menunjukkan es yang sedang
di makannya.)

Bu bidan : ” Hah… ambil dari mana itu bu Mia?”

Kader Mia: ” Ya, dari freezer Bu bidan lah……..”

Bu Bidan: ” Ampun.. Bu Mia, makanya, ngambil apa-apa
itu nanya-nanya dulu. Itu bukan es lagi…”

Kader Mia: ” Lho, trus apaan ?”

Bu bidan: ” Itu ASI -air susu ibu-  aku bu Mia…..!!!! sengaja di taruh di plastik
dalam freezer, jadi kalo aku pergi-pergi ASI itu dipanasin sama babysitter trus di
beri ke bayi aku……………”

Kader Mia: (pucet ) ” Apaaaaa???”

Bu Bidan :” Iya… Itu ASI…………………bukan es”

Kader Mia: (Putus asa melihat ke arah bungkus plastik yang sudah amblas isinya)
” jadiiii… ini.. ASI bu bidannn?”

Bu Bidan : ” Iyaaa………..”

Kader Mia: “!@###$%%^^%&&*((*&^$###$$$@@$$**”

Peserta posyandu + kader lain : ” wkwkwkwkwkwkwkwkwkwkwwwww
xixixixxiiiiiixixixxixixixiiiiiiiiixixixixiixxxxxxxxiiiii”

(Salam Buat Ni Ta; ini storynya… :-)   )

PUTRI TIDUR

PUTRI TIDUR

PUTRI TIDUR

Dahulu kala, terdapat sebuah negeri yang dipimpin oleh raja yang sangat adil dan bijaksana. Rakyatnya makmur dan tercukupi semua kebutuhannya. Tapi ada satu yang masih terasa kurang. Sang Raja belum dikaruniai keturunan. Setiap hari Raja dan permaisuri selalu berdoa agar dikaruniai seorang anak. Akhirnya, doa Raja dan permaisuri dikabulkan. Setelah 9 bulan mengandung, permaisuri melahirkan seorang anak wanita yang cantik. Raja sangat bahagia, ia mengadakan pesta dan mengundang kerajaan sahabat serta seluruh rakyatnya. Raja juga mengundang 7 penyihir baik untuk memberikan mantera baiknya.

“Jadilah engkau putri yang baik hati”, kata penyihir pertama. “Jadilah engkau putri yang cantik”, kata penyihir kedua. “Jadilah engkau putri yang jujur dan anggun”, kata penyihir ketiga. “Jadilah engkau putri yang pandai berdansa”, kata penyihir keempat. “Jadilah engkau putri yang panda menyanyi,” kata penyihir keenam. Sebelum penyihir ketujuh memberikan mantranya, tiba-tiba pintu istana terbuka. Sang penyihir jahat masuk sambil berteriak, “Mengapa aku tidak diundang ke pesta ini?”.

Penyihir terakhir yang belum sempat memberikan mantranya sempat bersembunyi dibalik tirai. “Karena aku tidak diundang, aku akan mengutuk anakmu. Penyihir tua yang jahat segera mendekati tempat tidur sang putri sambil berkata,”Sang putri akan mati tertusuk jarum pemintal benang, ha ha ha ha…..”. Si penyihir jahat segera pergi setelah mengeluarkan kutukannya. Read the rest of this entry

Bertemu Catatan Lama

Bertemu Catatan Lama

* 29 Februari 2000

Kau tahu, ku rindu puisiku,
yang mengalirkan dendam ke pori-pori seluruh tubuhku.
Ku tahu, ku rindu kamu,
walau tak serindu aku ke puisiku.
Yang seringkali hadir di kala
aku rindu kamu.
Tapi tak lagi seperti kala itu,
yang tertoreh slalu benci.
Walau itu juga bukti rasa itu.
Yang hadir kini benar hanya rindu,
dan sedikit pilu.
Ku tahu, kau rindu puisiku.
Yang biasa kulayangkan padamu
di saat seperti ini.
Seperti desau angin
selalu hadir di sini
Kau tahu, kau rindu aku.
Melebihi rindumu pada puisiku.
Namun kau ingkar kata hatimu
Ku juga ingkari itu.

Karena rinduku rindumu

telah pernah menyatu,
kemudian berlalu.
Namun puisiku tentangku tentangmu malam ini
rindu, sangat rindu untuk kubuat baru dan berjudul rindu
yach, rindu yang pilu.

* 07 Juni 2010

Pada akhirnya rindu itu menemu
di puisi-puisiku tentangmu
ada apa dengan semua hari tak lunas
ada kenapa dengan semua dendam tak sudah

semoga kau membacanya

rindu itu habis

Infeksi Menular Seksual; Penyebab dan Pendekatan Sindrom untuk Manajemen Pasien

Infeksi Menular Seksual; Penyebab dan Pendekatan Sindrom untuk Manajemen Pasien

INFEKSI DAN TRANSMISI

Infeksi menular seksual (IMS) adalah infeksi yang menyebar terutama melalui kontak seksual orang-ke-orang. Ada bakteri menular seksual lebih dari 30 yang berbeda, virus dan parasit. Beberapa, dalam HIV tertentu dan sifilis, juga dapat ditularkan dari ibu ke anak selama kehamilan dan persalinan, dan melalui produk darah dan transfer jaringan.

Beberapa patogen menular seksual yang paling umum dapat dibagi menjadi orang-orang yang disebabkan oleh bakteri, virus dan parasit.

Common infeksi bakteri

Neisseria gonorrhoeae (penyebab gonore atau infeksi gonokokal)
Chlamydia trachomatis (penyebab infeksi klamidia)
Treponema pallidum (penyebab sifilis)
Haemophilus ducreyi (menyebabkan chancroid)
Klebsiella granulomatis (sebelumnya dikenal sebagai penyebab Calymmatobacterium granulomatis inguinale granuloma atau donovanosis). Read the rest of this entry

Jika Aku Mati

Jika Aku Mati

Jika Aku Mati

Segerakan secepatnya

mandikan jasadku
sholatkan di Mesjid tempatku biasa mengaji
tak perlu menunggu lama
tak usah semua ada

aku ingin segera beristirahat

Jika aku mati

tak mau ada keramaian
kecuali yang mendoakan
tak usah ada tahlilan
apalagi nyanyian
jangan ada kamera

urusanku dengan dunia telah putus sudah

biarkan aku beristirahat dengan tenang

Jika aku mati

segerakan dengan sederhana
jangan ada perayaan
tak perlu ada pembacaan sejarah kehidupan
tak mau ada pidato
jangan ada tangis tangisan

jika ada yang cinta

istirahatkan saja aku dengan tenang

Jika aku mati

kuburkan aku di pemakaman yang mana saja
tak perlu ada tabur bunga
jangan ada karangan bunga
aku tak suka bunga
tak usah nisankan pula
tak mau namaku tertera di sana

urusanku dengan nama telah usai

jika ada yang peduli

lupakan dan jangan kenang-kenang aku pula
istirahatkan saja sesegera

Jika aku mati

jangan ada gundukan di makamku
ratakan saja
agar mudah buat yang menyayangiku
untuk segera lupakan aku

Jika aku mati

tolong…
kumohon
tolong saja
aku hanya ingin beristirahat dengan tenang
seperti yang kuinginkan

-Gedung itu,-
Bitung 9 Juni 2010
16:00

Sebelum Kau Hadir

Sebelum Kau Hadir

Puisi Iin Syah

Sebelum Kau Hadir

Hidupku hanyalah sebuah pokok kayu kering di sudut belakang rumah. Ada kehidupan pelan-pelan merajah di akar-akarnya. Namun begitu pelan dan tak menjanjikan apa-apa. Ada daun-daun kering hijau muda tumbuh di sela-selanya. Namun begitu penuh tanda tanya dan begitu mudah akan sirna terkena sinar mentari saja.

Aku hampir habis. Hampir tamat oleh semua gejolak irama hari yang lambat membunuhi ingin dan harapku. Aku gaib tanpa cita-cita dan harapan kecuali hanya ingin mempertahankan hidup saja. Kesunyian begitu ganjil menyelubungi sekitarku. Tanpa siapa-siapa. Tanpa apa-apa. Hidup abu-abu, hitam putih tak berwarna. Biasku habis termakan masa lalu tak terbayarkan.

Sebelum Kau Hadir

Bahasaku tak bersisa dalam basa-basi menata hati agar terus mampu menatapi hari. Ruangku tertelan kering aroma tengah hari yang tak pernah sudah menyajikan tekanan tak terbendung. Malamku usai dengan membodohi mimpi sendiri dengan berkata : “Aku tak butuh mimpi apa-apa.”

Aku hilang. Ya, aku hilang.

Sebelum kau hadir, aku pokok kayu yang hilang terlupakan.

Maka maaf

Jika kini, aku tak tahu bagaimana cara melewati hari-hariku tanpamu.

Maaf

tapi sungguh
kamu harus percaya
aku telah berusaha keras
untuk mengembalikan hatiku
dimana
ketika itu
kamu hanya sebuah cerita
yang jauh
dari
waktu yang sungguh irasional dapat dijadikan alasan
kenapa kamu menjadi sangat berharga.

tapi sampai detik ini
aku belum bisa
menganggapmu tak ada
-melupakanmu itu mustahil-

hingga

aku takut

benar-benar takut

kehilanganmu

(kumohon jangan pergi)

tapi tak perlu khawatir
beri aku waktu lagi
aku akan berusaha lebih keras
agar bisa
membuatmu kembali merasa nyaman
dengan keberadaanku
yang menjadikanmu
bukan sebagai siapa-siapa
bukan sebagai apa-apa

Sebelum Kau Hadir

Aku hilang

hilang rasa
hilang ingin
hilang cinta
hilang cita

kini aku merasa telah menemukannya
lewat kata keringmu
lewat sapa singkatmu
lewat adamu

Semoga nanti

Setelah aku benar bisa menempatkanmu
di tempat yang seharusnya
sama seperti yang lainnya

aku tidak akan
kehilangan semua itu kembali

tapi kini
kumohon
jangan pergi
beri aku waktu
lagi………….

Bitung, 11 Juni 2010

(Iin Syah, di Langit.)

RAJAH

RAJAH

Puisi Iin Syah

RAJAH

pada karang tengah lautan
biar senang
kamu aku berenang ke sana
biar hilang
aku ditelan gemuruhnya
bila suka
kau bersenang aku hilang
pasti
aku kan merajah namamu di sana
kemudian
tenggelam aku ke dasar samudra
tinggalkan rajahmu selamanya
di karang tengah lautan
asal kamu senang
aku hilang
pasti
aku takkan kembali
pulang
biarkan
rajah tengah samudra
selamanya
bersamamu
bersenang
menatapku
terbenam

Giwe,11 Juni 2010

23:03

Aku Bukan Cinta

Aku Bukan Cinta

Puisi Iin Syah

aku bukan cinta
aku hanya tak mengerti
ada apa dengan hati ini

aku bukan sayang
aku hanya belum bisa
mengartikan
apa bahasa rasa ini

seperti malam pada bintang-bintang
dihiasinya tetapi jauh
diindahinya tapi tak bisa
mendekapnya walau sekedar
mengusir awan dan pagi yang datang

seperti bintang pada malam
menemaninya tetapi semu
tak bisa tersentuh
tak mungkin bertemu
demi sekedar
menolak daulat cahaya mentari
dan pagi yang mengganggu

aku bukan cinta,
sayang…

hanya pasrah
seperti malam pada bintang
seperti bintang pada malam
tak ada yang perlu diperdebatkan
tak musti dipertanyakan
bersama saja…

biar saja menamanya apa

cinta atau bukan

karena akhirnya
untuk rasa yang kupunya
padanya
bahasa tak punya kata

cukup saja;
seperti malam
seperti bintang

Giwe;
12 Juni 2010
22:47

Kenapa Pesawat yang Terbang Tinggi Mengeluarkan Asap Putih?

Kenapa Pesawat yang Terbang Tinggi Mengeluarkan Asap Putih?

Kenapa Pesawat yang Terbang Tinggi Mengeluarkan Asap Putih?

Pesawat atau jejak pesawat disebut juga Contrail merupakan singkatan dari Condensate Trail atau jejak kondensasi. Jejak ini tercipta karena adanya kondensasi uap buangan bahan bakar pesawat. Asap putih dari pesawat itu sebenarnya adalah gas buang biasa berupa CO dan CO2 yang membeku (karena diatas sana pada ketinggin lebih dari 30000 feet (kira-kira 10000 meter) sangat dingin (-50-55oC). Hal ini bisa terjadi karena di ketinggian itu beda temperatur pada lapisan udaranya sangat kecil, begitu juga beda tekanannya.

Bahan bakar jet biasanya mengandung Hydro Carbon atau bahan bakar yang mengandung Hydrogen dan Carbon. Dalam proses pembakaran di engine, Hydrogen dan Carbon dibuang oleh engine jet pesawat terbang. Carbon sisa pembakaran menciptakan asap Carbon Dioksida(CO2) dan Carbon Monoksida(CO). Sedangkan dari pembuangan engine, Hidrogen bereaksi dengan Oksigen yang tak terbakar keluar sebagai uap air dari mesin jet. Namun karena ketinggian pesawat tersebut berada disekitar 30000 kaki dan suhu diatas sana yang mencapai -50an oC, maka buangan Hidrogen yang bercampur dengan Oksigen ini langsung terkondensasi menjadi butiran air es. Dan akhirnya menciptakan jejak bagaikan awan cirrus. Udara dingin di ketinggian tersebut menyebabkan hasil buangan mesin jet pesawat membeku dan perlahan-lahan terurai. Pada keadaan dimana beda tekanan dan temperatur udara sangat kecil (atau hampir sama), asap sisa pembakaran itu seperti tidak bergerak kemana-mana, sehingga membentuk jejak (trail). Namun karena beda tekanan dan temperatur itu masih tetap ada (walaupun kecil), maka lama-kelamaan jejak itu pun akan mengurai (mengalir ke lapisan yang lebih tinggi). Itulah yang menyebabkan tanda asap memanjang dan lambat pudarnya. Pesawat apa saja, yang mampu terbang tinggi sekali sehingga ketinggiannya mencapai daerah yang memilki suhu -50oC dapat membuat jejak seperti itu.

Sebagai contoh kalau kita membakar sesuatu di permukaan bumi (di tanah), asap akan mengepul ke atas karena lapisan udara yang lebih tinggi memiliki temperatur yang lebih rendah (karena semakin dekat dengan muka bumi lapisan udara semakin banyak menerima panas matahari yang dipantulkan oleh permukaan bumi), dan semakin tinggi juga semakin rendah tekannya.Udara juga merupakan materi yang punya massa sehingga mengalami gaya gravitasi, akibatnya kepadatan udara semakin dekat dengan bumi akan semakin tinggi.

Wing tip pesawat (sebuah lekukan pada ujung sayap pesawat) juga mampu menciptakan jejak kondensasi. Hal ini terjadi karena terciptanya vortek turbulensi pada ujung lekukan tersebut karena pergesekan dengan udara dingin sehingga mampu mengkondensasi udara menjadi air.

Jadi kalau kita melihat ada asap putih memanjang di belakang pesawat yang terbang tinggi itu bukan karena ”semacam kode tanda ijin terbang melintas di atas area militer” seperti yang selama ini beredar di masyarakat luas.

sumber : http://www.airportzone.info/

Kangen Perform Ariel with Peter Pan dan Luna Maya di Dahsyat

Kangen Perform Ariel with Peter Pan dan Luna Maya di Dahsyat

Kangen Perform Ariel with Peter Pan dan Luna Maya di Dahsyat

Yeach, udah pasti banyak yang bakal protes dengan ‘kerinduan’ In di atas. Whatever lah. Sebenarnya In bukan penggemar fanatik kedua artis di atas yang akhir-akhir ini menghebohkan media massa. Tapi sejujurnya juga, Iin amat suka sama beberapa lagu Peter Pan yang digawangi Ariel sebagai vokalis. Sementara Luna? Hmmm, tak banyak artis yang berangkat dari model, cantik, tapi begitu low profil seperti Luna Maya.

Jadi ingat, waktu Luna baru muncul di layar televisi. In kagum abis, kok ya bisa ya, nih orang cakep abis. Gak ada bosan-bosannya melihat gaya dan dandanannya yang gak terlalu menor gitu. Dan, ketika Luna mulai jadi presenter di Dahsyat RCTI, In jadi semakin kagum saja. Udah cantik, pekerja keras, pinter, eh ternyata bisa lucu juga. Pokoknya Dahsyat tanpa kehadiran Luna gak lengkap deh.

Dan, video itu tiba-tiba muncul. Byarr. Dimana-mana pemberitaan dan hujatan muncul. Gak di Tivi, koran, majalah, blog, status FB teman-teman. Ukh, berbagai ragam makian dan hujatan terdengar. Gak ada yang salah, walau banyak yang malah memancing keingintahuan untuk melihat rekaman tersebut. Tapi, melihat gambarnya saja, In udah gak tega. Oya, In sampai-sampai males buka fb cos baca status temen-temen yang banyak banget menghujat mereka.)

Terlepas benar tidaknya video tersebut, tetap saja video itu memang tidak layak ditonton. Terlepas benar tidaknya juga, tidak membuat Iin juga langsung membenci lagu-lagu Peter Pan. Dan beneran, jadi ada yang kurang di Dahsyat tanpa Luna Maya.

Ya, rada heran juga dengan berbagai pendapat yang bermunculan. Giliran Ariel-Luna menghilang, prediksinya macem-macem. Pas Ariel-Luna muncul lain lagi yang diberitakan. Hmmm, kasihan. Sepertinya, untuk kasus Ariel-Luna, tidak ada istilah praduga tak bersalah. Ya ya ya ya, tentunya yang berkesimpulan begitu telah melahap habis video tersebut hingga sedemikian yakinnya. So, siapa yang dirusak dan merusak nih ya?

Semua orang tentu amat sangat punya hak untuk mengemukakan pendapat, dan jika ini pendapat Iin, bukan berarti setuju jika benar itu perbuatan mereka. Cuma pemberitaan yang menggebu-gebu tokh bukannya membuat video tersebut menghilang, malah semakin membuat orang penasaran. Dan semakin kacaulah jika yang penasaran adalah anak-anak di bawah umur. Dan lagi, menghujat sebelum ada pembuktian pasti sepertinya juga tidak ada unsur mendidiknya.

So, semoga worldcup bisa mengalihkan pemberitaan menjauh dari isu panas seputar Ariel-Luna. Dan, of course, penampilan Ariel dengan hits terbaru dan perform kembali Luna Maya di Dahsyat tetap In nantikan…

Hilang

Hilang

dan ku tahu pasti kau menemani
…*

Ya Rangga,
jam tangan itu, putusan kemarin ketika aku
hampir mati menelan rusuh kemustahilan
perang dan angan
yang mati beku pada ruammu yang tak ada jawab.
Waktunya tiba
aku harus bisa
melewati jeruji hati atas namamu
dan nama cinta
-Busyit-
tak ada penunggu bersepatu roda yang kan
lewat seperti sumpahmu pada
keningku yang terlalu berembun untuk kau kecup.

peduli ku peduli siang dan malam yang berganti
sedihku ini tak ada arti*

apa peduli kita
pada lagu berdarah yang menyuapiku dengan seribu kenangan
separo jalan
depan rumah yang tak berubah
menangis menangis saja
jangan ikut melukis langit dengan
air mata.
Tak ada alasan:
pun ketika itu air mata terakhirku.
Rangga.

inikah yang kau mau
benarkah ini jalanmu?*

aku mencintaimu

aku hilang arah tanpa hadirmu*

pergi ke balik dunia sepanjang
keraguan, kenafian, ketololan, sumpah serapah,
atau taburkan saja umpan angin pada
mimpi pemimpi palsu
yang mana saja.
kenapa tidak?
hanya semoga tak mengingatmu lagi dalam tujuh
bait puisi kelas raja penangis.

*tumbuhkan rasa yang sesakkan dada*

Rangga.
ini cinta
aku pergi.

*Letto

RINDU CACING, RINDU KUMBANG DAN KUPU

RINDU CACING, RINDU KUMBANG DAN KUPU

RINDU CACING, RINDU KUMBANG DAN KUPU

Puisi Wardjito Soeharso

bulan pecah, cahaya patah,
gemerisik desir angin berbisik lirih
terus belai aku dengan daundaun luruh itu,
sampai hasratku pasti, menggelinding tiba dini hari

adakah hutan itu masih menyimpan embun,
untuk kumbang dan kupu melepas dahaga rindu?

malam terus mendekap sepi, satusatu,
akulah si cacing tanah, yang tak lagi punya tempat,
sekedar menggeliat di bebasahan.

: sakit mana yang lebih pedih?
dan mataku pun tetap membelalak!
mataku matamu mata kita beradu satu pandang tajam menyala
bak ingin saling membakar siapa lebih cepat.

Tanda-Tanda Orang Berusia Panjang

Tanda-Tanda Orang Berusia Panjang

Tanda-tanda Orang Berusia Panjang

Vera Farah Bararah – detikHealth

Jakarta, Setiap orang selalu berharap bisa memiliki usia panjang yang sehat. Apakah Anda memiliki tanda-tanda umur panjang? Lihat 14 tanda berikut yang menunjukkan seseorang bisa berusia panjang.

Seperti dikutip dari Prevention, Kamis (8/7/2010), ada banyak cara yang bisa dilakukan orang agar memiliki tubuh sehat sehingga meningkatkan kesempatan berusia panjang.

Ada 14 tanda orang yang memiliki usia panjang, yaitu:

Usia ibu masih muda saat melahirkan Anda
Jika saat dilahirkan ibu berusia di bawah 25 tahun, maka orang tersebut memiliki kesempatan 2 kali lebih besar berusia panjang dibandingkan dengan orang yang dilahirkan saat ibunya sudah tua.

Menurut ilmuwan dari University of Chicago, sel telur yang dimiliki oleh ibu muda adalah yang terbaik sehingga menghasilkan keturunan yang sehat.

Anda seorang pecinta teh
Baik teh hijau maupun teh hitam mengandung konsentrasi katekin (zat kimia yang membantu membuat pembuluh darah rileks dan melindungi jantung) yang cukup. Tapi pastikan untuk mengonsumsi teh segar, karena daun teh yang ditambahkan air akan menurunkan katekin beberapa hari kemudian.

Sebaiknya hanya menambahkan lemon atau madu pada teh dan bukan susu, karena susu dapat menghilangkan efek protektif tersebut.

Lebih memilih untuk berjalan kaki
Sebuah studi menunjukan orang yang berjalan 30 menit sehari bisa meningkatkan 4 kali kesempatan untuk hidup lebih lama dibandingkan orang yang jarang berjalan, tak peduli berapa banyak lemak ditubuhnya.

Jadi berjalan kaki saat jam makan siang, berputar di lapangan atau bergerak setiap harinya bisa memiliki manfaat lebih.

Menghindari soda bahkan yang versi diet
Ilmuwan di Boston mengungkapkan konsumsi satu atau lebih minuman soda setiap hari bisa meningkatkan dua kali lipat risiko sindrom metabolik, termasuk tekanan darah tinggi, peningkatan insulin, kelebihan lemak di sekitar pinggang serta meningkatkan risiko jantung dan diabetes.

Memiliki kaki yang kuat
Bagian bawah tubuh yang kuat diartikan memiliki keseimbangan yang baik, fleksibilitas dan daya tahan. Sehingga mengurangi risiko patah tulang pinggul dan cedera lainnya yang dapat menurunkan kesehatan

.

Robert Butler, MD, dari International Longevity Center, USA menuturkan otot paha yang lemah bisa menjadi salah satu penyebab kelemahan di usia tua.

Mengonsumsi makanan berwarna ungu
Makanan ini mengandung senyawa polifenol yang dapat mengurangi risiko jantung dan Alzheimer. Polifenol ini membantu menjaga pembuluh darah dan arteri tetap fleksibel dan sehat.

Sebuah penelitian terbaru menunjukkan konsumsi 1 cangkir bluberry setiap hari dapat meningkatkan komunikasi antara sel-sel otak.

Memiliki berat badan remaja yang sehat
Sebuah studi dalam Journal of Pediatrics menunjukkan kelebihan berat badan di usia 14 tahun dapat meningkatkan risiko diabetes di usia dewasa, hal ini tentu saja meningkatkan risiko komplikasi dari diabetes seperti penyakit jantung.

Tidak suka burger
Mengonsumsi daging sapi atau domba memang bukan masalah besar, tapi jika konsumsi lebih dari 500 gram daging merah per minggunya berisiko besar terkena kanker usus besar. Selain itu konsumsi daging merah yang dipanggang, dibakar atau dimasak pada suhu tinggi bisa meningkatkan kandungan senyawa karsinogen.

Memiliki tingkat pendidikan tinggi
Sebuah studi dari Harvard Medical School menemukan bahwa orang yang lebih dari 12 tahun menikmati pendidikan formal bisa hidup 18 bulan lebih lama dibandingkan dengan orang yang lebih sedikit bersekolah. Hal ini diperkirakan orang yang berpendidikan lebih tinggi cenderung sedikit mengonsumsi rokok.

Sangat menikmati memiliki teman
Hubungan interpersonal yang baik bisa bertindak sebagai pencegah terhadap stres. Memiliki orang-orang yang mendukung, bisa membuat seseorang tetap sehat baik secara mental maupun fisik. Karena stres yang kronik dapat melemahkan sistem kekebalan tubuh dan usia sel yang lebih pendek, sehingga memperpendek usia 4-8 tahun.

Memiliki teman-teman yang sehat
Studi dari New England of Journal of Medicine menunjukkan jika teman terdekat memiliki berat badan berlebih, hal ini meningkatkan kesempatan sebesar 57 persen pada seseorang untuk berada di kondisi yang sama. Karena itu penting untuk bergaul dengan orang-orang yang memiliki tujuan hidup sama dalam hal kesehatan.

Tidak takut tantangan baru
Orang yang disiplin terhadap diri sendiri serta bisa berorganisasi dengan baik, memiliki risiko lebih rendah terkena Alzheimer dibandingkan orang yang kurang hati-hati. Hal ini dikarenakan orang yang memiliki fokus perhatian akan menggunakan kekuatan otaknya. Karena itu cobalah untuk merangsang otak dengan melakukan hal-hal yang baru, serta mengulangi hal-hal yang sudah dipelajarinya.

Tidak memiliki pembantu di rumah
Jika seseorang melakukan pekerjaan rumah seperti menyedot debu, mengepel dan mencuci, maka rata-rata orang sudah membakar sekitar 285 kalori. Hal ini akan menurunkan risiko kematian sebesar 30 persen.

Seseorang yang berkembang
Seseorang yang berkembang cenderung memiliki pandangan yang positif tentang kehidupan, memiliki tujuan dan rasa sosialisasi. Hal ini membuatnya memiliki makna dalam hidupnya.

Orang-orang yang memiliki usia panjang cenderung memandang kerja keras adalah penting, tapi tetap menghabiskan waktu lebih banyak untuk keluarga, meningkatkan spiritualitas dan melakukan hal bersama orang lain.

(ver/ir)

sumber : http://health.detik.com/

WANITA PEKERJA, BENARKAH WANITA KARIR?

WANITA PEKERJA, BENARKAH WANITA KARIR?

WANITA PEKERJA, BENARKAH WANITA KARIR?
Oleh: Wardjito Soeharso

Sekarang ini tidak aneh lagi kalau wanita bekerja di luar rumah. Cukup banyak wanita yang berhasil dalam pekerjaannya, baik di sektor swasta, birokrasi pemerintahan, kerja mandiri sebagai pengusaha, maupun masuk dalam kancah politik sebagai politikus. Ada direktur atau manajer wanita di perusahaan-perusahaan swasta. Ada pejabat-pejabat wanita dari eselon I sampai eselon IV, bahkan menteri dan kepala daerah (gubernur, bupati/walikota) di pemerintah pusat sampai pemerintah daerah. Ada pengusaha-pengusaha wanita yang sukses mengelola bisnisnya, dari skala kecil sampai besar, di desa sampai kota. Dan ada legislator-legislator wanita yang tangguh berkiprah di Dewan Perwakilan Rakyat, baik di pusat maupun daerah.

Meskipun demikian, jumlah wanita pekerja yang berhasil atau sukses mencapai posisi tinggi, ternyata belum begitu banyak. Dibandingkan dengan pria, dari sisi statistik, jelas wanita masih jauh ketinggalan. Di sektor swasta, tetap saja lebih banyak direktur dan manajer pria yang menempati posisi-posisi strategis. Di lingkungan birokrasi pemerintahan, jumlah pejabat-pejabat wanita juga masih sangat terbatas. Di kalangan pengusaha, jumlah pengusaha wanita juga masih bisa dihitung dengan jari. Sementara itu, di tubuh partai politik, untuk memenuhi kuota 30% calon legislator wanita, juga bukan hal yang mudah.

Sebagai widyaiswara di Badan Diklat Provinsi Jawa Tengah, saya selalu menanyakan pada para peserta diklat wanita, terutama diklat Pra Jabatan untuk Calon Pegawai Negeri Sipil, apakah motivasi mereka bekerja menjadi PNS. Dan jawaban mereka, dari waktu ke waktu, hampir selalu sama: membantu suami. Sangat kecil persentase yang menjawab untuk berkarir dan beraktualisasi diri. Bila pertanyaan yang sama diberikan kepada wanita pekerja di sektor swasta atau wira usaha, nampaknya jawabannya pun tidak akan terlalu jauh berbeda.

Fakta ini menunjukkan bahwa ada masalah yang dihadapi oleh wanita dalam bekerja. Terutama dalam meniti karir untuk mencapai posisi-posisi tertentu, wanita lebih banyak kalah dan tertinggal dari pria. Padahal, kalau dilihat dari sejak awal masuk, entry point, wanita dan pria, dari kuantitas maupun kualitas, juga relatif sama. Seperti yang nampak dalam setiap rekruitmen untuk menjadi pegawai negeri sipil, jumlah pelamar wanita dan pria cukup sebanding. Demikian pula nanti, yang lulus dan diterima, antara wanita dan pria tentu jumlahnya juga tidak terpaut banyak.

Wanita kalah bersaing dengan pria dalam dunia kerja karena menyandang dua predikat atau status yang berbeda. Di satu sisi, wanita pekerja adalah wanita karir yang mencoba mencari aktualisasi diri dalam profesi. Di sisi lain, wanita adalah ibu rumah tangga yang dituntut untuk mengurus rumah, menjaga, mendidik, dan membesarkan anak-anak.
Dua status berbeda ini membuat wanita, walaupun sudah keluar dari rumah untuk bekerja, merasa gamang dan serba ragu untuk mengambil sikap. Apakah ia akan total dalam pekerjaan, artinya mengejar prestasi setinggi mungkin sebagai bentuk aktualisasi diri, ataukah sekedar bekerja apa adanya, yang penting bekerja dan memperoleh penghasilan seadanya?

Status wanita sebagai ibu rumah tangga nampaknya memang menjadi kendala utama bagi wanita pekerja. Dalam masyarakat patriarkhi, pria berperan sebagai kepala keluarga, bertanggungjawab atas semua kebutuhan keluarga. Sementara, wanita atau ibu berperan sebagai ibu rumah tangga, mengurus rumah, menjaga, mendidik, dan membesarkan anak-anak. Inilah model pembagian kerja secara seksual. Antara pria (ayah) dan wanita (ibu) sudah punya batas wilayah sendiri-sendiri dalam hal pekerjaan. Oleh karena itu, sudah menjadi kewajiban pria untuk keluar rumah bekerja mencari nafkah. Sebaliknya, menjadi keharusan bagi wanita untuk tinggal di rumah mengurus rumah dan anak-anak.

Faham patriarkhi ini menempatkan wanita tidak memiliki peran ekonomis dalam rumah tangga. Peran ekonomis sepenuhnya berada pada pria. Pria harus bertanggungjawab penuh atas ekonomi rumah tangga. Akibatnya, wanita menjadi sangat tergantung pada pria. Falsafah Jawa mengatakan, wanita itu suwarga nunut neraka katut. Kalau sang pria (ayah) sukses dan kaya, sang wanita (ibu) ikut mulia, namun bila sang pria gagal dan miskin, sang wanita ikut sengsara pula hidupnya.

Waktu berubah jaman berganti. Tidak selamanya pria (ayah) mampu memenuhi kewajibannya secara ekonomis. Banyak pria, walaupun sudah bekerja keras membanting tulang, tetap saja tidak mampu mencukupi kebutuhan rumah tangganya. Kondisi ini membuat banyak wanita bersikap radikal, menyingsingkan baju, keluar rumah untuk ikut bekerja. Dengan bekerja, wanita telah mengambil sebagian peran ekonomis pria. Dengan bekerja, wanita ikut menafkahi keluarga, minimal menafkahi dirinya sendiri dalam rumah tangga.

Jadi wanita bekerja itu sekedar membantu suami yang kurang berhasil mencari nafkah. Wanita bekerja itu sekedar menutup “kantong” suami yang bolong, menambal “kocek” suami yang robek. Wanita bekerja sifatnya melengkapi bukan memenuhi. Dan pemahaman atas orientasi bekerja ini sangat berpengaruh terhadap motivasi wanita dalam bekerja.

Wanita tidak pernah berjuang maksimal dalam pekerjaan. Ketika masih sendiri (lajang) mungkin wanita mempunyai semangat tinggi untuk bersaing, karena dia berpikir dia bekerja untuk dirinya sendiri. Tetapi, begitu dia menikah, daya saingnya akan menurun. Dia merasa harus membagi waktu dan tenaganya untuk keluarga. Bila dihadapkan pada pilihan, antara keluarga dan pekerjaan, kemungkinan terbesar wanita akan memilih keluarga.

Peran atau status ganda wanita inilah nampaknya yang membelenggu wanita bekerja dalam berkarir. Wanita tidak sepenuhnya memberikan dirinya (kemampuannya) untuk beraktualisasi diri, sehingga lebih sering mengalah dengan membiarkan peluang yang semestinya mampu diraihnya, diambil oleh pria yang bisa saja kualitasnya berada di bawahnya. Alasan pembenaran dari sikap itu juga tetap sama: pertama, dia tidak ingin “lebih maju” dari suami (seringkali bahkan memang suami yang melarangnya untuk maju), dan kedua, dia merasa bekerja hanya sebagai penambal kocek suami yang robek.

Padahal, RA Kartini yang memelopori emansipasi wanita dulu mendorong wanita berperan aktif dalam kehidupan sosial ekonomi bukanlah sekedar sebagai pelengkap (membantu suami), tetapi justru sebagai mitra atau partner (pendamping suami) dengan hak dan kewajiban yang seimbang. Artinya, kalau pria (suami) harus berprestasi untuk beraktualisasi, wanita (isteri) juga harus berkompetisi untuk sampai puncak karir.

Jadi, yang diperlukan wanita pekerja saat ini adalah memperbaharui motivasi bekerjanya. Dari “sekedar membantu suami” menjadi “beraktualisasi diri”.

PENERIMAAN

PENERIMAAN

Puisi Chairil Anwar

Kalau kau mau kuterima kau kembali
Dengan sepenuh hati

Aku masih tetap sendiri

Kutahu kau bukan yang dulu lagi
Bak kembang sari sudah terbagi

Djangan tunduk! Tentang aku dengan berani

Kalau kau mau kuterima kau kembali
Untukku sendiri tapi

Sedang dengan cermin aku enggan berbagi

(Deru Campur Debu 1959:36)

SENJA DI PELABUHAN KECIL

SENJA DI PELABUHAN KECIL

SENJA DI PELABUHAN KECIL

Puisi Chairil Anwar

Ini kali tidak ada yang mencari cinta
diantara gudang, rumah tua, pada cerita
tiang serta temali. Kapal, perahu tidak berlaut
menghembus dari dalam mempercayai mau bertaut

Gerimis mempercepat kelam. Ada juga kelepak elang
menyinggung muram, desir hari lari berenang
menemu bujuk pangkal akanan. Tidak bergerak
dan kini tanah dan air tidur hilang ombak

Tiada lagi. Aku sendiri. Berjalan
menyisir semenanjung, masih pengap harap
sekali tiba di ujung dan sekalian selamat jalan
dari pantai keempat, sedu penghabisan bisa terdekap

( Deru Campur Debu, 1959:39 )

Zair

Zair

Puisi Iin Syah

Menggulung desah di balik tirai hijau
tampak kepak tua kayu laut
aku jatuh
pada gelap yang dikunci mati
hati zair

hingga tak ada
kering tak pernah tahu
biru atau hijau laut
kian menghilang saja
di sendu tak terucapkan
tak terceritakan

Karena keajaiban habis di ruang ini
pada tanya
-jika hidupmu telah sempurna,
apalagi yang kau cari-

Aku memulung percikannya
di dulang retak
masihkah sempat
membasuh mukaku?
dengannya
yang keramat

yang kucinta, kuingin sangat


Bitung, 17 Juli 2010

Telah Terbit Buku Antologi Puisi RUANG JINGGA

Telah Terbit Buku Antologi Puisi RUANG JINGGA

Alhamdullillah akhirnya setelah melalui proses yang lumayan berat. Penuh banyak angan-angan, harapan, perjuangan, dorongan dari orang-orang tersayang. Buku antologi puisi yang salah satu diantara penulisnya adalah Iin Syah, akhirnya terbit juga.

RUANG JINGGA

RUANG JINGGA

Ini adalah sebuah mimpi yang jadi kenyataan. Kejutan kecil terindah yang melalui sebuah proses begitu lama. Dari search bagaimana cara menerbitkan buku, ketemu dengan orang-orang penuh inspirasi, sampai kemudian beranjak kepada hadirnya iinsyah’s weblog yang membawa begitu banyak pengaruh positif dalam hari-hari Iin untuk kembali berusaha meraih mimpi yang sekian lama tertunda.

Terima kasih buat semuanya.

Buat Rini Intama dari pencinta puisi yang sungguh luar biasa perjuangannya demi menjadikan Ruang Jingga nyata dan ternyata sangat indah.

Buat pihak penerbit yang juga tidak kalah besar artinya dalam mewujudkan mimpi kami bersama ini.

Buat semua sahabat-sahabat di blog, facebook, yang kehadiran dan keberadaannya sungguh membuat banyak perubahan pada Iin yang kemudian berujung pada hadirnya RUANG JINGGA. Thanks,………

Ciaaaa………….dah kayak apaaa gitu, hihi…tapi suer, seneng banget, akhirnya bisa ikut meramaikan khasanah sastra Indonesia, walaupun mungkin baru sejumput kecil yang belum terlihat diantara rerimbunan dunia sastra Indonesia. Tapi setidaknya ada sebuah langkah maju dalam hidupku, heheheee……… seneng-seneng dikit dulu menghela nafas lega boleh kan?

Weeiii, tapi masih ada perjuangan berat lain yang menanti, yaitu membawa RUANG JINGGA ke ruang publik. Agar pesan yang kami bawa sampai dan tak hanya mati di penerbitan buku saja.

RINI INTAMA

RINI INTAMA DAN RUANG JINGGA Pesta Sastra Bulungan

Tanggal 27 Juni kemarin, Rini Intama telah ‘melepas’ RUANG JINGGA untuk pertama kali dalam acara PESTA SASTRA BULUNGAN.  Hmmm, thanks yang tak terhingga deh buat Rini Intama.

Btw, RUANG JINGGA sendiri ditulis oleh dua belas penyair dengan berbagai latar belakang budaya, adat, pendidikan, umur, pekerjaan, dll. Ini jelas sangat mempengaruhi puisi masing-masing penulisnya. So, RUANG JINGGA menjadi sangat hidup dengan berbagai ragam tema yang diusungnya. Dijamin tidak akan membosankan buat disimak, dimaknai, dan dibaca menemani hari senggang maupun sibuk anda. Upsss, hati-hati dah mulai promosi nih ( hihihiiii……..). RUANG JINGGA juga menarik karena dengannya, semoga pembaca bisa masuk ke dalam kegelisahan, cinta, kerinduan, protes, yang tergurat dengan indah di setiap bait-baitnya.

Nah, buat teman-teman yang ingin segera membaca dan memiliki RUANG JINGGA, tidak usah ragu. SMS saja ke no: 081343709364. Ayoo….buruan, nanti kehabisan lho, hehehee…………….
Salam.



Perjalanan 1

Perjalanan 1
PUISI IIN SYAH

Perjalanan Ini

Terpenat
Terasa jauh dan buram
Seperti harap di tapak tangan tak mampu di genggam
Seperti sebentuk awan di depan tak mungkin di dekap

Padahal aku pantas
Sungguh tak cela aku berucap,
Aku pantas dapatkan semua

Kembara ini

Menuntaskan habis semua asa yang tersisa
Tak ada sepatahpun terkata
Meski di mata nyata aku yang resah
Meski habis malam ini selesai

Apa susahnya membiarkan malam usai

Walaupun sampai dimana sampai di sana
Tak ada apa-apa yang mungkin diawali diakhiri
Sungguh rupa perjalanan ini
Tak lagi menarik hati

Aku lelah
Dan hampir menyerah

bertanya-tanya
mana lentera yang pernah kau janjikan dulu
bisa menuntunku menuju bintang manapun yang kumau
mana terangnya yang berkilau waktu itu
percaya kamu selalu percaya aku

Perjalanan ini

sekali ini lagi
tolonglah
izinkan aku berlari
meraih asa yang terhenti
di waktu tersepi di sisi hati
________________________________
Rain in my dream,
in my heart
Rain in my rain
28 Juli 2010
22:37

INTEGRITAS; Sekedar Untuk Renungan

INTEGRITAS; Sekedar Untuk Renungan

INTEGRITAS; Sekedar Untuk Renungan

Wardjito Soeharso

Kritik paling tajam untuk bangsa Indonesia saat ini adalah: kehilangan integritas. Kita sebagai bangsa dipandang semakin jauh dari nilai-nilai kebenaran. Karut marutnya hukum di negeri ini sebagai pertanda nyata bahwa hukum dan aturan itu sangat relatif, tergantung siapa dan bagaimana hukum itu diperuntukkan dan diberlakukan.

Integritas adalah sikap konsisten terhadap apa yang diucap dengan apa yang diperbuat. Ia bisa berarti satunya kata dan perbuatan. Apa yang diucapkan itulah yang dilakukan. Kalau di atas mimbar dia berpidato, mari kencangkan ikat pinggang, mari hidup sederhana, mari berantas korupsi, maka dalam perilaku keseharian pun dia akan benar-benar mengencangkan ikat pinggang, hidup sederhana, tidak korupsi.

Berlawanan dengan integritas adalah hipokrit. Perilaku yang tidak konsisten antara yang diucap dengan yang diperbuat. Mulut berbusa mengatakan kencangkan ikat pinggang, hidup sederhana, anti korupsi, tetapi sehari-hari terlihat perutnya buncit kebanyakan makan, ke mana-mana naik mobil mewah, dengan pengusaha kerjanya berkolusi. Manusia-manusia semacam inilah yang sekarang ini justru makin banyak jumlahnya di negeri ini.

Integritas berbeda dengan jujur. Dalam integritas otomatis terkandung makna jujur. Artinya, orang yang memiliki integritas sudah pasti orang yang jujur, karena cenderung mengatakan hal-hal positif untuk melakukan hal-hal yang positif. Sebaliknya, orang yang jujur belum tentu memiliki integritas, karena jujur lebih mengarah pada apa yang diperbuat itulah yang diucap. Dengan demikian, dalam kejujuran masih terdapat ruang untuk mengatakan hal-hal yang negatif bila yang diperbuatnya adalah hal-hal yang negatif. Dari perbandingan ini, kita boleh berkesimpulan bahwa integritas memiliki nilai lebih dibanding kejujuran. Orang dituntut membangun sikap berintegritas daripada berkejujuran. Read the rest of this entry

Aku dan Sepeda

Aku dan Sepeda

Dulu, dulu sekali, aku selalu ingin mempunyai sebuah sepeda.  Waktu itu umurku sekitar enam atau tujuh tahun. Tapi kedua orangtuaku sepertinya tidak bakal membelikan aku barang istemewa itu. Terlalu berbahaya anak sekecil aku bersepeda di jalan raya. Apalagi untuk dapat dipergunakan pergi dan pulang sekolah. Ayah, selalu saja setia mengantar dan menjemputku dari sekolah dengan vespa tuanya. Walaupun, jika Ayah terlambat sedikit saja, aku pasti sudah kabur duluan, pulang jalan kaki dengan teman-teman.

Perjalanan pulang dengan teman-teman itu selalu menyenangkan. Di jalan, kita sekali-sekali turun ke selokan –yang masa itu airnya masih sangat jernih- berusaha menangkap ikan-ikan yang terlihat ramai berseliweran. Oh, tentu saja hasilnya hanyalah baju seragam yang basah kuyub plus omelan begitu tiba di rumah. Tak sekalipun, aku berhasil menangkap ikan. Pun tak pernah aku bosan untuk main di selokan itu lagi setiap pulang ke rumah. Hal lain yang juga menyenangkan jika pulang jalan kaki, adalah ketika musim buah tiba. Karena di sepanjang ‘jalan tikus’ yang kami lewati adalah deretan pohon-pohon Mangga, yang bila sedang musimnya, selalu berbuah lebat. Maka, walaupun di rumah ada sekarung mangga aneka jenis yang ranum dan siap di santap, tetap bangga dan asyik rasanya membawa pulang beberapa mangga hasil buruan kami di sepanjang perjalanan pulang. Dan ya… pastinya di rumah akan di sambut teriakan,

“Iiiiiiiinnnn………baju seragamnya kenapa sudah penuh noda Mangga semua?” Read the rest of this entry

Tuhan 9 cm

Tuhan 9 cm

Taufik Ismail

Indonesia adalah sorga luar biasa ramah bagi perokok,
tapi tempat siksa tak tertahankan bagi orang yang tak merokok,

Di sawah petani merokok,
di pabrik pekerja merokok,
di kantor pegawai merokok,
di kabinet menteri merokok,
di reses parlemen anggota DPR merokok,
di Mahkamah Agung yang bergaun toga merokok, hansip-bintara-

perwira
nongkrong merokok,
di perkebunan pemetik buah kopi merokok,
di perahu nelayan penjaring ikan merokok,
di pabrik petasan pemilik modalnya merokok,
di pekuburan sebelum masuk kubur orang merokok,

Indonesia adalah semacam firdaus-jannatu-na’im sangat ramah bagi
perokok,
tapi tempat siksa kubur hidup-hidup bagi orang yang tak merokok,

Di balik pagar SMU murid-murid mencuri-curi merokok,
di ruang kepala sekolah…ada guru merokok,
di kampus mahasiswa merokok,
di ruang kuliah dosen merokok,
di rapat POMG orang tua murid merokok,
di perpustakaan kecamatan ada siswa bertanya apakah ada buku tuntunan
cara merokok,

Di angkot Kijang penumpang merokok,
di bis kota sumpek yang berdiri yang duduk orang bertanding merokok,
di loket penjualan karcis orang merokok,
di kereta api penuh sesak orang festival merokok,
di kapal penyeberangan antar pulau penumpang merokok,
di andong Yogya kusirnya merokok, sampai kabarnya kuda andong minta
diajari pula merokok,

Negeri kita ini sungguh nirwana kayangan para dewa-dewa bagi perokok,
tapi tempat cobaan sangat berat bagi orang yang tak merokok,

Rokok telah menjadi dewa, berhala, tuhan baru, diam-diam menguasai kita,

Di pasar orang merokok,
di warung Tegal pengunjung merokok,
di restoran, di toko buku orang merokok,
di kafe di diskotik para pengunjung merokok,

Bercakap-cakap kita jarak setengah meter tak tertahankan abab rokok,
bayangkan isteri-isteri yang bertahun-tahun menderita di kamar tidur
ketika melayani para suami yang bau mulut dan hidungnya mirip asbak rokok,

Duduk kita di tepi tempat tidur ketika dua orang bergumul saling
menularkan HIV-AIDS sesamanya,
tapi kita tidak ketularan penyakitnya.
Duduk kita disebelah orang yang dengan cueknya mengepulkan asap rokok
di kantor atau di stopan bus,
kita ketularan penyakitnya.
Nikotin lebih jahat penularannya ketimbang HIV-AIDS,

Indonesia adalah sorga kultur pengembangbiakan nikotin paling subur di
dunia,
dan kita yang tak langsung menghirup sekali pun asap tembakau itu, bisa
ketularan kena,

Di puskesmas pedesaan orang kampung merokok,
di apotik yang antri obat merokok,
di panti pijat tamu-tamu disilahkan merokok,
di ruang tunggu dokter pasien merokok,
dan ada juga dokter-dokter merokok,

Istirahat main tenis orang merokok,
di pinggir lapangan voli orang merokok,
menyandang raket badminton orang merokok,
pemain bola PSSI sembunyi-sembunyi merokok,
panitia pertandingan balap mobil, pertandingan bulutangkis, turnamen sepakbola
mengemis-ngemis mencium kaki sponsor perusahaan rokok,

Di kamar kecil 12 meter kubik, sambil ‘ek-’ek orang goblok merokok,
di dalam lift gedung 15 tingkat dengan tak acuh orang goblok merokok,
di ruang sidang ber-AC penuh, dengan cueknya, pakai dasi, orang-orang
goblok merokok,

Indonesia adalah semacam firdaus-jannatu-na’im sangat ramah bagi orang perokok,
tapi tempat siksa kubur hidup-hidup bagi orang yang tak merokok,

Rokok telah menjadi dewa, berhala, tuhan baru, diam-diam menguasai kita,

Di sebuah ruang sidang ber-AC penuh, duduk sejumlah ulama terhormat
merujuk kitab kuning
dan mempersiapkan sejumlah fatwa.
Mereka ulama ahli hisap.
Haasaba, yuhaasibu, hisaaban.
Bukan ahli hisab ilmu falak,
tapi ahli hisap rokok.

Di antara jari telunjuk dan jari tengah mereka terselip berhala-berhala kecil,
sembilan senti panjangnya,
putih warnanya,
kemana-mana dibawa dengan setia,
satu kantong dengan kalung tasbih 99 butirnya,

Mengintip kita dari balik jendela ruang sidang,
tampak kebanyakan mereka memegang rokok dengan tangan kanan,
cuma sedikit yang memegang dengan tangan kiri.
Inikah gerangan pertanda yang terbanyak kelompok ashabul yamiin dan yang
sedikit golongan ashabus syimaal?

Asap rokok mereka mengepul-ngepul di ruangan AC penuh itu.
Mamnu’ut tadkhiin, ya ustadz. Laa tasyrabud dukhaan, ya ustadz.
Kyai, ini ruangan ber-AC penuh.
Haadzihi al ghurfati malii’atun bi mukayyafi al hawwa’i.
Kalau tak tahan, di luar itu sajalah merokok.
Laa taqtuluu anfusakum. Min fadhlik, ya ustadz.
25 penyakit ada dalam khamr. Khamr diharamkan.
15 penyakit ada dalam daging khinzir (babi). Daging khinzir diharamkan.
4000 zat kimia beracun ada pada sebatang rokok. Patutnya rokok diapakan?

Tak perlu dijawab sekarang, ya ustadz. Wa yuharrimu ‘alayhimul
khabaaith.
Mohon ini direnungkan tenang-tenang, karena pada zaman Rasulullah dahulu,
sudah ada alkohol, sudah ada babi, tapi belum ada rokok.

Jadi ini PR untuk para ulama.
Tapi jangan karena ustadz ketagihan rokok,
lantas hukumnya jadi dimakruh-makruhkan, jangan,

Para ulama ahli hisap itu terkejut mendengar perbandingan ini.
Banyak yang diam-diam membunuh tuhan-tuhan kecil yang kepalanya berapi
itu, yaitu ujung rokok mereka.
Kini mereka berfikir. Biarkan mereka berfikir.
Asap rokok di ruangan ber-AC itu makin pengap, dan ada yang mulai
terbatuk-batuk,

Pada saat sajak ini dibacakan malam hari ini,
sejak tadi pagi sudah 120 orang di Indonesia mati karena penyakit rokok.
Korban penyakit rokok lebih dahsyat ketimbang korban kecelakaan lalu
lintas,

lebih gawat ketimbang bencana banjir, gempa bumi dan longsor,
cuma setingkat di bawah korban narkoba,

Pada saat sajak ini dibacakan, berhala-berhala kecil itu sangat
berkuasa di negara kita,
jutaan jumlahnya,
bersembunyi di dalam kantong baju dan celana,
dibungkus dalam kertas berwarni dan berwarna,
diiklankan dengan indah dan cerdasnya,

Tidak perlu wudhu atau tayammum menyucikan diri,
tidak perlu ruku’ dan sujud untuk taqarrub pada tuhan-tuhan ini,
karena orang akan khusyuk dan fana dalam nikmat lewat upacara menyalakan
api dan sesajen asap tuhan-tuhan ini,

Rabbana, beri kami kekuatan menghadapi berhala-berhala ini.